Minggu, 22 Juni 2008

MARKETING RUMAHKU

MARKETING RUMAHKU

Namanya Lin ( nama lengkapnya dirahasiakan untuk menjaga privacynya ). Dia bekerja di bagian marketing sebuah real estate di Jakarta Selatan. Aku mengenalnya dalam hubungan bisnis karena membeli rumah melalui dia.Hanya sebatas itu. Kami sering bertelepon urusan rumahku.

Suatu siang aku jalan ke untuk sekedar melihat pameran perumahan yang sering diselenggarakan di suatu tempat di kawasan Senayan. Kebetulan aku ketemu Lin yang sedang jaga stand real estatenya. Kami ngobrol membicarakan perkembangan rumah yang kubeli. Tanpa sadar sudah jam dua. Sebenarnya masih ada yang masih harus kutanyakan. Tapi aku ada janji bisnis lain. “Bagaimana kalau diteruskan nanti ?”, tanyanya. Kami sepakat bertemu lagi jam 9 malam setelah jam pameran selesai.

Aku jemput Lin malam itu. Lalu makan malam bersama. Semua lancar saja.Biasa saja. Dalam batas bisnis antara marketer dan kliennya. Lalu dia kuantar ke kostnya. “Mampir Mas”, katanya. Aku bilang bahwa aku capek sekali. Tampaknya dia kecewa. Akhirnya aku mampir ke kostnya. ” Sebentar saja ya ?”, kataku. Dia mengangguk dan tersenyum. Kulihat dia lega aku mau mampir.

Setelah masuk kamarnya Lin keluar sebentar. Balik lagi sambil membawa dua coca cola dingin. “Silakan Mas. Aku mandi dulu. Gerah rasanya”, katanya. Dia lalu masuk kamar mandi yang ada di kamarnya juga.

Aku duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Kupandangi kamarnya. Tidakterlalu luas. Paling ukuran 4 x 5 meter. Ada dua kursi, lalu tempat tidur dan meja belajar yang menyatu dengan lemari pakaian seperti anak kos mahasiswa. Seperangkat tape deck dan televisi ada di depan tempat tidurnya. Lalu kamar mandi ada di pojok kamar. Dia atas pintu ada AC windows untuk mendinginkan kamar. Semua tertata rapi. Maklum cewek.

Lama juga Lin mandi. Capek duduk, aku lepas sepatu dan dasiku. Lalu rebahan di tempat tidur sambil lihat TV. Mataku makin ngantuk. Berkali-kali aku berusaha keras menahan mataku agar tidak tertidur.

Kudengar pintu kamar mandi terbuka. Lin keluar memakai celana pendek dan kaos kutang. Rambutnya basah habis kramas. Aku segera berusaha duduk sambil menahan kantuk. “Santai saja Mas…rebahan saja kalau ngantuk”, katanya sambil tersenyum. Aku rebahan lagi. Kupandangi Lin yang duduk di kursi samping tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ternyata Lin cantik sekali tanpa make up. Kakinya panjang, tangan dan lengannya putih mulus sekali.

“Mas tampaknya capek sekali. Tengkurap Mas biar saya pijitin”, katanya sambil naik ke tempat tidur. Aku ikut saja. Lalu tangan lembut mulai menyentuh pundakku. “Buka saja bajunya Mas agar nggak kusut”, katanya lagi. Aku ikut saja. Duduk dan mulai membuka baju. “Sekalian kaosnya”, katanya pelan. Aku memandanginya. Dia hanya tersenyum manis. Aku buka kaos dalamku dan tengkurap lagi.

Lin mulai memijiti pundakku kembali. Tangan lembutnya menyusuri pundak dan punggungku. Nikmat sekali. Aku merem nikmat. Tapi kantuk mulai hilang. Leher belakangku juga dipijitinya. Lin lalu duduk di pantatku. Dengan lincah ditekannya kedua telapak tangannya. Nikmat sekali. Capek yang kurasakan sejak sore berangsur pulih.

Lin lalu turun dari pantatku dan menyuruhku telentang. Dia lalu bergeser di atas kepalaku. Aku merem saja. Kurasa Lin sedang memandangi dada dan perutku yang penuh bulu. Sambil jongkok dan mulai dipijiti kedua lengan dan tanganku bersamaan. Aku merasakan tangan halus Lin menyusuri lengan, tangan dan jariku. Aku picingkan mataku sedikit. Kulihat tangan panjang dan mulusnya. Wow. Keteknya juga kelihatan. Mulus tanpa rambut selembarpun. Dan tidak berbau. Lin lalu memijiti dadaku sambil tetap jongkok di atas kepalaku. Dia mengurut dari dada ke perut. Nikmat sekali rasanya………. Aku merem saja. Setiap kedua tangannya mengurut dada keperut badannya candong ke arahku. Susu dan pentilnya yang terbalut kaos kutangnya menyapa mukaku. Kurasa Lin tidak memakai apa-apa di balik kaosnya. Berulangkali Lin mengusap dada perutku dan berulangkali pula benda lembut itu menyentuh mukaku. Lin lalu duduk bersila di atas kepalaku. Jari-jarinya kemudian mempermainkan pentil susuku. Ah……aku kegelian nikmat…….Aku membuka mata dan kulihat Lin tersenyum di atasku.

Aku tersenyum juga. Lin lalu mencongdongkan mukanya dan mencium bibirku. Aku menyambutnya dengan penuh gairah. Kupegang dan kubelai rambutnya. Sementara jari Lin tetap mempermainkan putting susuku. Bibir Lin lalu turun menjilati leherku. Ahhh….. Lin lalu mulai mencium putting susuku. Aku mendesah nikmat sekali…… Tanganku meremas dada Lin yang ada di atasku. Lin makin bergairah menghisap putingku. Tanganku mencari ujung kaosnya dan kutarik. Kaosnya kulempar kesamping tempat tidur. Sekarang dengan lahap aku menciumi dan menghisap susu Lin. Kurasakan nafas Lin terus mendesah…..Tangannya kemudian turun ke bawah dan membuka sabukku.

Resletingku dibukanya. Dan aku membantunya memelorotkan celanaku dengan kakiku. Kini aku telanjang bulat. Lin terus menciumi dada dan perutku dari atas. Dia kini mengangkangi mukaku. Aku tarik celana pendek dan dalamnya. Wow…… mulusssssss. Rambutnya tidak cukup lebat. Menggiurkan. Aku mainkan jariku di memeknya, di itilnya. Dia menggelinjang dan melenguh……… Tangan Lin terus memegangi kontolku sementara bibirnya menciumi pahaku dan telorku.

Kenikmatan yang terduga malam ini. Lin mulai menjilati kontolku. Tangan kirinya memegangi batangku dan tangan kananya mengelus-elus pahaku. Ah…… Tak lama kontolku amblas dalam mulut Lin…… Selangit rasanya…… Kontolku dihisap kuat-kuat dan dikulum-kulum seperti permen. Berulang-ulang kontolku keluar masuk mulut Lin…..

Sementara itu aku menjilati memek Lin. Ini yang kusuka. Basah tapi tidakberbau. Mungkin dia waktu mandi tadi pelah membersihkan dengan sabun dan diberi parfum. Lidahku dengan lincah mempermainkan itilnya….. Lin kegelian dan menggelinjang kuat serta menghisap kontolku….kerjasama yang baik…. Kurasa Lin telah mengalami klimak berkali-kali karena dia beberapa kali mengejan, tubuhnya bergetar dan diam sebentar. Peluh membasahi tubuhnya……

Cukup lama kami dalam posisi ini sampai akhirnya Lin menarik mulutnya dari kontolku dan mengangkat memeknya dari bibirku. Dia bergeser dan menghadap aku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Tubuhnya mengkilap oleh keringat. Sekarang dia duduk di atasku. Dicondongkan mukanya menciumku. Sebentar saja. Perlahan dia pegang kontolku dan dibimbingnya memasuki memeknya………..blesssssss……..ahhhhhhh………

Lin memejamkan matanya. Rambutnya tergerai di bahunya. Basah. Kepalanyadiangkat mendongak ke belakang merasakan nikmat kontolku. Diangkatnya pantatnya pelan-pelan lalu ditunkan lagi….. Aku membantunya dengan\menekan kontolku pelan-pelan sampai habis….Ah………………. Makin lama gerakan Lin makin cepat…. Kontolku menusuk-nusuk memek Lin dengan ganasnya…… Bagai kuda liar tubuh Lin naik turun…… aku juga makin keras menusukkan kontolku……tanganku menyusuri tubuhnya dari leher turun ke dadanya berulang-ulang. Tubuhnya basah sekali. Licin. Kumainkan putingnya dan kuremas-remas dadanya……Lin terus menggelinjang tubuhnya……tangannya menyusuri tubuhnya sendiri dari atas kebawah…….lalu mengusap dadaku…..dan memegangi rambutnya yang tergerai……Lin merem dalam melakukan gerakannya….dia menikmati saat-saat nimat dan indah ini……………

Sampai akhirnya aku nggak tahan lagi……aku cengkeram paha Lin kuat-kuat…..tusukan kupercepat…..makin cepat…….Lin tampaknya juga akan klimaks lagi…..klimaksnyaklimak……”Sekarang Mas….sekarang……sekarang…..”,desahnya terengah-engah sambil mempercepat gerakannya …….. dan akkkhhhhhhhhhh…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku angkat tinggi tinggi pinggulku agar kontolku amblas penuhh seluruh sambil memuncratkan pejuhnya dalam memeknya…….Lin mengejang kaku……..akkhhhhh…. dan aku bangkit memeluknya sambil terus menekan kontolku untuk memuncratkan pejuhku……kurasakan nikmat tiada tara………kami berpelukan mengejang….tubuh kami basah oleh keringat….benar benar basah seperti mandi………….

Lin membuka matanya. Tersenyum. “, Luar biasa Mas….”, desahnya. “,Kamu juga..”, bisikku sambil terus memeluknya. Kurasakan pejuhku mulai mengalir keluar memeknya…. Kontolku masih tetap dalam memeknya sementara aku tetap memeluknya erat-erat……

Malam itu aku tidur di kos Lin dan paginya kuantar ke Senayan. Nanti malam aku janjian sama Lin lagi. Kali ini bukan ke kosnya. Tapi aku akan membawanya ke pantai. Aku ingin bercinta di atas pasir. Dan Lin setuju.

VT4

VT4

Thanks Wiro, gue bisa seneng banget punya kesempatan untuk menulis sesuatu di CCS. Walaupun baru kali ini gue tulis cerita ini (well, honestly ini true story and kejadiannya hampir setahun yang lalu… walaupun boleh dibilang basi tapi ini merupakan memori yang gak bakalan gue lupakan)

Gue sekolah di Eropa, tepatnya negara di B. Semasa gue sekolah gue punya pacar orang Rusia. Gosh, jujurnya dia cantik bleh, gak asli Rusia tapi campuran antara Turkish juga (great deal deh!) Gue gak nyangka kalo dia bisa jadi pacar gue, namanya juga jodoh sih buat apa dipikirin. Panggil aja dia Uaisova, dengan badan yang tinggi sekitar 170 an dan besar dada sekitar 36an (entah deh yang tepatnya) tapi gue sempet ‘kejadian’ sama doi.

Waktu itu, gue lagi belajar di kamar gue, eh dia ketuk kamar gue (maklum, kamar doi di lantai atas kamar gue) — lalu shortly dia tiduran di atas ranjang gue sambil panggil nama gue (call gue ‘Chick’ deh) humm.. dia bilang hari ini panas yah, well, setahu gue waktu itu bulan November and angin lagi dingin banget.. yah, kamar gue emang rada panas (habis gue pasang heater kamar gue rada panas — maklum biasa di Jakarta sih). Yah gue bilang aja that ‘you could make yourself comfortable’ — gue lagi emang asyik kerjain skripsi gue sih waktu itu. Eh tahu-tahu gak dinyana — doi buka bajunya tinggal bra and underwear-nya aja, gulp.. gue kaget juga rada bingung, gila banget yah — kontan aja deh gue tutup tirai jendela gue (takut kalo apartemen di seberang tempat gue ngintip…egois juga yah?!) Lalu, gue terus terang masih kayak orang terhipnotis (bengong kayak kambing bego).. and she called me up to come and accompanying her (uh uh…) Yah, karena dia pacar gue, nurut aja deh (yah namanya juga kesempatan.. little devil juga deh gue!) Doi touched gue punya barang yang emang pada saat itu udah mengeras. Gue berusaha nahan diri waktu itu, dengan coba pasang TV..sialnya gue jadi makin horny gara-gara VT4 (local TV) pada saat itu lagi ‘night’ movies yang XXX banget (kacau deh).

Dan dia juga saat itu kelihatannya entah kenapa kok ‘face’nya dia redish banget (merah kayak kena sun burn) uf..uf..nafsu kali yah. Dia juga lihat itu film dulu dan kontan dia cengkram gue punya kedua tangan gue and dia sitting di atas gue (wah, gue padahal masih pakai baju lengkap..gawat gak tuh!) terus, dia kontan buka celana pendek gue dan langsung menghisap batang gue yang emang udah keras dari tadi…kontan aja gue geli agak kelojotan..lucu banget tampang gue waktu itu kalo gue inget rasanya…
mmmmpppppphhhh….mmmuummpphh…hhhh…sllurp… sekitar 5 menit lalu gue gak tahan banget… gue stop dia dan gue udah kayak kesetanan, gue buka baju gue and gue balikin dia, gue di atas dia and gue jilatin gantian seluruh dadanya yang udah rada mengeras…da..chick moi…strasvyotje (yes, Chick darling hurry up!) gue sempet dijambak karena gue jilatin juga dia punya pussy.. (damn, strange smells sih… soalnya gue belum pernah having this course — virtul with XXX movies sih OK..but this one)
aaaaaaahhhh…aahhh..hhhh….da…da…uummppphhhh.. dia agak mengejang setelah gue jilat dia punya pussy around 5 menit… lalu dengan nafsu juga gue langsung aja menjilati dadanya lagi, dan setiap kali gue hisap, tangan gue juga gak kalah nakalnya hingga ia melenguh panjang. Entah kenapa gue bisa begitu otomatis lagi expert, then gue masukkan lidah gue ke dalam sela-sela bibir kemaluannya dan mulai menjilatinya naik-turun. Dia terengah-engah… Demikian pula gue (lupa daratan deh). Dia mengerang panjang, ‘hhhh….ahhhh…eggghhhhhhh……..phinjve-tyeh Chick moi..!’ (…put it inside Chick darling!) Dia tampaknya sudah benar-benar capai akan permainan ini dan menginginkannya cepat berakhir, maka gue mulai menuntun batangan gue ke bibir kemaluannya.
Gue menggerakkan batangan gue naik-turun. Dia mendesah. Aku naik ke atas tempat tidur dan berbaring terlentang. Gue minta dia naik ke atas badan gue lagi. Lalu gue minta dia memasukkan batangan gue ke dalam kemaluannya. Dia sudah tidak sabar. Sambil terengah-engah dipegangnya penis gue dan dituntunnya ke pintu vaginanya. Gue kontan mendesah, ‘ahh…Svachika*….ahhh….’ (*my darling). Mata gue terpejam saat dia memasukkan penis gue ke dalam vaginanya. Gue minta dia untuk mengendalikan permainan agar dia dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan, soalnya dia agak kaget melihat batang penis gue yang masih keras banget. Dia memasukkannya dengan sangat pelan, tapi konstan. Saat masuk seperempatnya dia berhenti dan minta dicium. Gue mengangkat kepala sedikit dan dia menghampiri bibir gue. Bibir kami bertemu dan berpagutan sementara itu dia kembali menekan tubuhnya sehingga penis gue masuk makin dalam. Setelah sekitar 10 menit, suara cairan yang muncrat keluar ketika terdesak oleh penis gue terdengar pelan memecah suasana seru tersebut… Ahhhhhh…great Svachika, spaseba….ughh…’ (thank you..)
Well, the game is not over yet, gue masih membiarkan penis gue terbenam di vagina-nya.
Penis gue saat itu sudah hampir masuk seluruhnya namun Uaisova tiba-tiba berhenti, tampaknya dia menahan sakit. ‘Calm down….’ Dia mengangguk dan tersenyum. Gue usap-usap punggungnya sambil sesekali kuremas lembut dadanya. Dia mendesah dan mulai menekankan tubuhnya makin ke bawah. Penis gue sekarang sudah masuk semua dan dia mulai bergerak berirama naik-turun. ‘Ohhh..hsss….da…ahhhhh…Svachika….ahhhh….I love you darling…ahhh…’ ‘ahh…I love you..ahh…too…ohhhhh……ja diblia lublu Chick moi..’ (I love you Chick darling). Kami mulai bergerak semakin cepat namun tetap mempertahankan irama. Semakin cepat gerakan kami semakin intens pula gue memainkan dadanya hingga ia berteriak-teriak kesetanan, ‘Arghhh….ahhh…..oooohhhhhhhhh……erghhhh…..’ Gue sudah bermandikan peluh begitupun dia. Gerakannya semakin cepat…naik…turun…naik..turun..naik..turun..naik…etc deh…. ‘ARGHHH ….AHHH…….Oh……..hhhhhh…..’ Tiba-tiba dia berteriak kencang sekali. Penis gue terasa hangat terkena cairan yang menyemprot deras di dalam vaginanya. Tubuhnya berkontraksi hebat, pinggulnya membanting ke atas dan ke bawah sementara jari tangannya menancap keras di pundak gue. Penis gue terasa seperti dipijat-pijat oleh gumpalan handuk lembab…rasanya enak sekali… incredible… ‘Ahhh…ohhh….I will coming up againnnnnhhh…..ahhhh….’ ‘Let it be…hhhh….hh…da..heehhhh…uhhh..’ ‘…hhhh…..’ Bersamaan dengan itu tubuh gue mengejang keras lagi. Sperma gue menyemprot deras dan banyak sekali untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba gue rasakan tubuh Uaisova kembali mengejang disertai teriakan keras, ‘Chick moi…ahhhhhh….ohh….man! that’s ahhh…greattt….you are horse’ (gue sempet gak mengerti apa maksud dia dengan kata-katanya..yang jelas gue berasa pegel banget semua sendi-sendi gue…kayak gue habis berenang 10km aja..) Dipijat-pijat oleh dinding vaginanya membuat sperma gue menyemprot semakin banyak. Tubuh kami mengejang cukup lama sampai akhirnya kami terbaring kecapaian. Gue tarik dengan pelan penis gue keluar dari liang vaginanya. Dia masih terpejam, mungkin masih menikmati kenikmatan yang tersisa. But VT4 program in the TV show still not over (gue aja yang bener dibikin over ama dia…) And after that I love to having that course..more and more.

JENNIFER

JENNIFER

Ini cerita gue sewaktu gue masih berada di negeri paman Sam. Waktu inilah gue kehilangan keperjakaan gue. Kejadiannya di Michigan , daerah yang dingin luar biasa buat gue soalnya gue paling enggak tahan cuaca dingin, sekitar empat tahun yang lalu. Buat kalian yang pesimis kalo cowok asia enggak bakalan bisa “jalan” sama cewek bule, terpaksa kalian harus buat teori yang baru. Gue pendekatan sama ini cewek lebih dari enam bulan, tapi penantian dan pengorbanan selama itu ternyata enggak sia-sia. Sampai-sampai gue stress berat pas kita bubaran. Namanya Jennifer. Dia itu keturunan Irlandia, berambut pirang dan bermata biru, cantik sekali!!
Suatu malam di ruang baca di rumahnya (gue pas lagi nginep di rumahnya), dia nyandarin kepalanya di bahu gue. Gue tahu kalo dia lagi begini pasti lagi minta disayang. Gue peluk dia, gue kecup keningnya dan matanya yang bening itu. Memang gue suka sekali nyium matanya yang biru itu. Dia tersenyum manja. Aduh kalo udah senyum itu seksinya man!!!! Gue enggak tahan, gue cium bibirnya. Tercium bau harum yang agak manis (gimana yah? gue juga binggung mau neranginnya). Gue jadi terbayang waktu pertama kali gue nyium dia. Kejadiannya di belakang mobil ortunya. Mana waktu itu bokapnya lagi yang nyetir! Gue sama Jenny duduk di belakang. Sewaktu mobil masuk jalan bebas hambatan, dia menguap kecapaian. Gue bimbing kepalanya ke bahu gue, pipi kita saling bersentuhan. Untung waktu itu malem, jadi bokapnya rada enggak tahu (kayaknya sih..). Waktu itu gue belum pernah nyium bibirnya dia. Maklumlah adat Timur gue bawa terus. Tapi sewaktu dia merem gue coba nyolong nyium bibirnya dia. Bau harum yang khas dari mulutnya dia makin bikin gue pingin nyium bibirnya. Biar agak deg-degan gue cium juga bibirnya, eh ternyata dia emang udah ngarepin, bibir gue bales di cium dia. Lembut sekali bibirnya.
Kembali ke ruang baca. Waktu itu sehabis makan malam. Untuk ngisi acara kita nyewa video. Tapi perhatian gue enggak pernah semenitpun ke filemnya. Perhatian gue lebih terarah buat dia. Tapi karena dia terlalu cape dia ketiduran dulu di sofa. Sial, gue akhirnya nonton filemnya juga deh..
Mungkin karena orang-tuanya percaya sama gue, mereka enggak meriksa kita lagi ngapain. Pas filemnya selesai gue bangunin Jenny yang masih ketiduran di pelukan gue. Gue cium bibirnya, dia menggeliat kaget. Tapi pas sadar dia bales nyium gue. Pertama-tama “gentle” tapi lama-lama semakin buas. Lidah kita bak ular yang sedang bercumbu, saling bergulat penuh nafsu. Sekali-kali gue telusuri lehernya yang jenjang dengan ciuman sambil sekali-sekali ke telinganya dia. Setiap gue masukin lidah gue ke telinga dia, dia berdesah panjang sambil manggil nama gue… Tangan gue yang dari tadi nganggur mulai gerilya. Sambil terus “french kissing”, tangan gue masuk dari bawah bajunya dia yang agak longgar. Jenny cuma pakai hem longgar sama celana dalam sebagai piyama. Dia cuma tersenyum manja sewaktu tangan gue masuk. Wah lampu hijau nih!
Tanpa ragu-ragu tangan gue terus naik ke arah dadanya. Pas jari-jari gue nyentuh buah dadanya dia menarik nafas dalam dan bibir gue digigit dengan lembut. Telunjuk gue bergerak melingkari puting susunya yang ternyata sudah mengeras. Sekali lagi dia menggerang keenakan. Satu persatu gue buka kancing bajunya. Tangan gue tangkas sekali melepas bajunya. Untuk pertamakali gue melihat langsung buah dada wanita! Yang pertama dan yang teristimewa! Di depan gue tergeletak gadis cantik setengah telanjang yang pasrah mau diapakan saja. Tanpa berpikir kalau orang-tuanya bisa masuk kapan saja gue lepas baju gue. Kembali gue hujani Jenny dengan ciuman. Gue telusuri setiap inci dari tubuhnya dengan kecupan. Dari lehernya yang jenjang turun ke dada. Gue kulum puting susunya. Gue permainkan puting susunya dengan lidah gue sambil sekali-sekali kuselingi dengan hisapan lembut. Bergantian gue kulum buah dadanya yang kanan dan kiri. Jenny sepertinya hanya bisa berbaring pasrah sambil sekali-sekali berdesah keenakan. Bibir gue terus meluncur ke arah perutnya yang ramping. Sampai di pusarnya, gue masukin lidah gue ke pusarnya. Lalu gue buat gerakan menghisap dengan mulut gue. Tangan Jenny cepat mengangkat kepala gue sambil berbisik “Ari, you teaser you…”. Mungkin rasa dingin dari pusarnya itu yang membuat dia memanggil gue penggoda. Terhenti sesaat membuat gue semakin menggila. Gue cium selangkangannya. Bau harum yang tercium membikin gue agak heran. Hebat dan rajin sekali dia merawat tubuhnya… Bibir gue terus bergerak kebawah, ke arah pahanya yang mulus dan tak berbulu satupun!! Kakinya yang indah itulah yang membuat gue betah “jalan” bareng dia. Memang gadis-gadis di negeri paman Sam, selalu mencukur bulu kaki dan ketiaknya. Perlahan gue mencium naik kearah pangkal pahanya sambil menyibak kakinya. Kucium daerah kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam. Agak basah terasa. Kembali bibir dan lidah gue beraksi menciumi buah dadanya. Gerakan menggeliat Jenny semakin hebat. Sementara itu tangan gue masuk ke celana dalamnya dan jari gue bergerak kebagian tubuhnya yang paling sensitive. Saat itu gue samar-samar dengar Jenny merintih “Ari, I want you inside me”. Kembali gue arahkan “serangan” bibir gue kearah pangkal pahanya. Celana dalamnya terasa semakin basah. Beberapa kali lidah gue terjulur dan menjilat bagian tubuhnya yang paling sensitive itu. Saat Jenny menggeliat dan mengangkat pinggulnya gue lepas celana dalamnya. Saat itu gue lihat rambut kemaluannya yang terawat dan tercukur rapi. Kembali gue tenggelam di antara kakinya. Kali ini lidah gue menelusuri bibir kemaluan Jenny. Gue kecup bibir kemaluannya sementara lidah gue mencoba menyibak garis vertikalnya. Seperti ular yang kesetanan mencari rumahnya, begitu pula lidah gue di kemaluan Jenny. Bergantian lidah gue menelusuri dinding luar kemaluan, klitoris dan liang kenikmatannya. Tak lama Jenny menarik badan gue ke atas dan mengulum bibir gue. “Stop teasing me, I want you inside me”. Agak terkejut, gue cuma tersenyum kecil. Dengan lincah jemari Jenny yang lentik melepas celana panjang gue (gue jarang pakai celana dalam, sesak..) Sekarang badan kita saling berhimpit tanpa ada selembar benangpun yang menghalangi. Sementara lidah gue menelusuri mulut Jenny, tangan gue menuntun kemaluan gue ke pangkal paha Jenny. Sedikit kumasukan kepala kemaluan gue ke liang kenikmatanya Jenny. Gue rasakan badannya mengejang disertai erangan kecil. Perlahan-lahan gue dorong pinggul gue sehingga seperempat dari kemaluan gue terbenam di vaginanya Jenny. Sensasi luar biasa sewaktu kemaluan gue masuk ke vaginanya Jenny. Entah setan mana yang merasuki gue waktu itu, gue enggak inget lagi sama orang-orang seisi rumah yang kapan saja bisa masuk ruang baca itu. Pinggul gue bergerak seirama dengan detak jantung gue yang saat itu terasa semakin cepat. Semakin cepat dan dalam kemaluan gue bergerak menembus vaginanya Jenny. Saat itu bibir dan lidah gue tidak tinggal diam. Dengan mesra gue cium buah dadanya sambil mengulum putingnya. Tangan gue menggenggam tangannya dia, seakan-akan tubuh kita benar-benar menjadi satu. Desahan Jenny terdengar semakin berat dan memburu. Tangannya kadang-kadang membantu gerak pinggul gue, seakan-akan hendak mengatakan untuk mempercepat gerakan gue. Saat mulut gue menghisap buah dadanya, Jenny mendadak memegang erat tangan gue. Dengan agak terkejut gue melihat expresi wajahnya Jenny. Keningnya mengerut dengan mata indahnya terpejam dan badanya mengejang. Seiringan dengan itu Jenny merapatkan kakinya menjepit gue. Gue yang juga sudah hampir kepuncak tidak bisa bertahan lebih lama sewaktu melihat expresi wajah Jenny sewaktu dia orgasme dan otot kemaluannya juga berkontraksi menjepit kemaluan gue lebih erat. Dengan satu hentakan kuat gue dorong kemaluan kedalam sambil melepas sperma hangat di dalam kemaluan Jenny. Dengan lemah gue jatuh di pelukan Jenny. Sambil tersenyum manis Jenny mengecup bibir gue sambil berbisik, “I love you Ari”. Entah bagaimana gue langsung tertidur di tempat tidur lipat dari sofa setelah pengalaman yang terasa “out of this world” itu. Hanya saja paginya gue harus direpotkan dengan bercak darah di celana panjang dan alas tidur gue……………………..

PENGALAMAN WAKTU SMA

PENGALAMAN WAKTU SMA

ini pengalaman gue pada waktu SMA dulu ceritanya gini. tapi sebelum itu gue pengen kenalin diri dulu nama gue andi gue sekarang lagi kuliah di suatu PTS di jakarta ini ceritanya pada waktu gue kelas 3 SMA di sekolah gue diadakan pesta valentin yang langsung pada tanggal 14 febuarinya. gue padahal waktu itu ngga mau ikut pesta-pesta valentine itu, tapi ada temen gue ini si toni yang maksain gue untuk ikut acara tersebut dengan alasan kan ini pesta sekalian kumpul-kumpul dengan anak sekolahan kita dan sekalian untuk cari mangsa karena pada waktu itu gue dan toni masih singel akhirnya gue putusin juga untuk ikut dengan si toni itu.pesta itu diadakan di salah satu hotel berbintang di jakarta acaranya dimulai jam 7 malam gue dan toni datang berdua dengan pakaian yang normal-normal saja. acarapun dimulai dibuka dengan sambutan salah satu teman gue. dan acara kemudian dilanjutkan dengan makan yang diiringi dengan music pada waktu makan gue ternyata tertarik sama satu cewe yang ok juga baik dari tampilannya maupun dari bodinya yang unik dari bodinya adalah ukuran badannya yang sedang dan dadanya yang besaaaaaaaaaaaar sekali seperti buah semangka kecil(dapat anda bayangkan seberapa kecilnya buah semangka itu) karena pada waktu itu dia memakai baju seperti baju kebesaran Yuni Shara yang model tali. setelah gue selesai makan akhirnya gue beraniin diri untuk berkenalan dengan tu cewe tadi.karena temen tu cewe adalah temen sekelas gue jadi gue alasan untuk menyapa temen sekelas gue sekalian kenalan dengan tu cewe. ternyata tu cewe namanya chintia gue terus ngobrol berdua dia karena temen sekelas gue itu dipanggil sama cowonya. dari hasil ngobrol tersebut ternyata si chinria itu kelas 2 dan masih singel lagi
haripun semakin malam acara akhirnya dimulai pada jam 8 yaitu acara dance semua baja dance dengan lagu house music maupun gue ngga bisa dance tapi gue turun juga untuk nemenin dia. acara dance kira-kira sampai jam 10.00 an dan dilanjutkan dengan istirahat sekitar setengah jam dan kira -kira jam 10.30 acara dilanjutkan kembali dengan slow dance yang berpasang-pasangan. dengan tanpa malu gue ajak si chintia itu untuk turun dance. ternyata direspon dengan baik olehnya. gue dance dengan dia layaknya gue udah jadian sama dia pertama kedua tangan gue di pinggang dia tapi lama kelamaan tangan gue turun ke pantat dia dan diapun diam saja.tapi yang tidak tahan adalah dadanya itu yang besar yang bertubrukan dengan dada gue dan rasanya dingin-dingin empuk dan kenyal-kenyal. karena suasa gelap gue juga ambil kesempatan untuk ngeliat lebih jelas dadanya yang montok itu dengan samar-samar gue berhasil ngeliat dadanya yang besar itu, ternyata dia tidak menganakan BH sehingga dengan semar-samar juga gue lihat puting susu. penglihatan tersebut membuat senjata gue semakin menegang. dan gue juga gesek-gesekin kontol gue itu ke daerah memeknya sambil goyang-goyang sesuai dengan irama lagunya. diapun diam-diam saja. setelah acara slow dance masih ada satu acara lagi. dan acara selesai kira-kira jam 12.30 an
akhirnya gue putusin untuk nganterin dia pulang sampai ke rumahnya. ternyata si chintia itu indekos didaerah sunter yang semua penghuninya cewe dan pada malam hari tidak boleh ada cowo yang datang. dia boleh keluar karena udah minta ijin dari ibu kos. sesampainya dirumah indekosannya gue ngga turun dari mobil gue langsung jalan lagi karana udah malam.
keesokan harinya gue sekolah seperti biasanya .pagi-pagi gue udah sampai disekolah untuk ketemuin dia sampai bel masuk berdering. gue terkejut setelah gue ngeliat tu cewe pakai baju seragam karena baju seragamnya yang pas yang membuat dadanya nonjol keluar. waktu istirahatpun gue gunain untuk ngobrol dengan si chintia. ternyata dia anggota tim Voli di sekolah gue dan setelah pulang sekolah ada latihan.
bel pulangpun berbunyi gue ketemuin dia untuk bilang entar pulang sama-sama karena gue juga ada pelajaran tambahan untuk ebtanas dan gue janji untuk ketemu di lapangan. setelah gue selesai pelajaran tambahan gue langsung ke lapangan ternyata lapangan sudah kosong sudah tidak ada yang latihan. ini membuat gue kecewa karena ternyata si chintia itu orangnya tidak tepat janji.
selang beberapa waktu ternyata terdengan suara orang berjalan setelah gue lihat ternyata si chintia yang berjalan sambil membawa minuman botol dengan menggunakan kaos dan celana pendek. akhirnya kami duduk berduaan di bawah pohon sambil tangan gue merangkul. tak lama kemudian hujan turun gue dan chintia lari cepat-cepat untuk masuk ke salah satu kelas untuk meneduh. baju gue dan chintia juga basah karena hujan turun dengan derasnya. gue buka baju kemeja gue yang basah kuyup itu dan menggantungnya di dekat salah satu lampu untuk dikeringkan dan si chintiapun ingin gati baju tapi wc jauh tempatnya akhirnya gue suruh dia ganti baju di kelas aja daripada sakit masuk angin. usul gue diterima juga sama dia dia tuker baju dengan menghadap ke tembok dan gue berbalik. karena gue udah nafsu sama dia dari kemaren untuk ngelihat dadanya yang besar akhirnya gue berpaling dan ngelihat dia buka kaosnya gue liat dari belakang bodinya dia yang mulus itu dan tanpa kompromi lagi gue langsung menghampiri dia dan langsung memeluknya dari belakang chintia terkejut dan berbalik badan dan seketika itu juga gue ngelihat dadanya yang besar itu langsung aja gue pegang dan remas-remas dadanya yang besar itu. mulanya dia berontak tapi lama kelamaan dia diam-diam saja dan langsung gue makin berani untuk membuka celana yang dia pake itu. setelah \gue buka celananya gue ngelihat bodinya cewe yang pertama kalinya yang hanya mengenakan CD dan BH setelah itu gue langsung buka BHnya dia dan setelah gue buka gue tanya dia pakai BH nomor berapa dia bilang 34D setelah gue tanya langsung gue isep yang namanya puting susunya yang kanan dan yang kiri gue remes-remes dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan gue masukin ke dalam CD nya yangbewarna hitam itu dengan menggasok-gosokkan ke itilnya isapan tidak berlangsung lama ternyata ia berbisik untuk gue ikut buka baju juga langsung aja gue turutin kemauan dia itu dan pada waktu gue buka CD gue dia terkejut ngeliat batang kontol gue yang udah tegang yang panjangnya 22cm dengan diameter kira-kira 6cm langsung gue suru masukin kontolgue ke mulutnya yang kecil itu ternyata baru masuk palanya kira-kira 4cm an mulutnya udah penuh dengan kontol gue tapi ngga apa yangpenting nikmatnya bung. gue suruh die isep kontol gue itu tapi tangan gue ngga diamtangan gua gue masukin ke dalam lobang memeknya sambil gue sodok sodokin dan diapun kenikmatan. setelah 5 menitan kontol gue diisep sama si chintia gua udah ambil posisi untuk masukin kontolgue ke dalam memeknya dia pertama-tama ngga mau katanya kontolgue kegedean ngga muat di memeknya tapi gue bujuk dia kalau sakit ngomong dan gue stopin akhirnya dia mau juga.
gue ambil posisi dia tiduran di meja dengan kaki terbuka lebar dan gue berdiri untuk siap masukin kontolgue ke memeknya. mula-mula kontol gue gue masukin ujungnya saja kira-kira 2cm itupun sulit karena chintia itu masih perawan. kemudiangue masukin makin dalam lagi si chintia mengerang kesakitan dan dari matanya keluar air mata tapi karena udah terlanjur akhirnya gue masukin kontolgue dengan cepat ke memeknya tapi baru masuk 20 cm kontol gue udah menton jadi sekarang gue tinggal keluar-masukin kontol gue aja itupun sulit maupun memeknya udah basah karena sulit akhirnya gue ganti posisi dengan posisi 69 ternya lebih mudah masuk si chintia yang mulanya mengerang kesakitan lama-kelamaan berubahmenjadi mengerang kenikmatan. selang beberapa waktu dia berteriak udah ingin keluar dan meminta untuk gerakan dipercepat dan aahahahahha dia orgasme tapi setelah dia orgasma gue ganti posisi lagi dengan doggy staly ini membuat gue makin dapat cepat lagi untuk masukin kontolgue ke memeknya selang beberapa menit ternyata gue udah mau keluar dan satu dua tiiiiiiga dan crot crot crot crot sperma gue keluar di dalam memeknya dan pada waktu gue tarik kontol gue dari memeknya ikut bersamaan sperma gue tumpah keluar bersamaan dengan darah yang keluar dari memeknya chintia. akhirnya kami berdua tiduran dilantai karena lemas kecapaian. pada waktu gue dan chintia lagi tiduran dilantai ternyata terdengar suara orang yang berjalan menuju kelas kami dan ternyata orang tersebut membuka pintu kelas kami itu adalah si toni dan kelanjutannya tunggu berikutnya

GURUKU, KEKASIHKU

GURUKU, KEKASIHKU

Namaku Rafi. Aku adalah seorang konsultan dalam bidang information technology. Pekerjaanku ini mengharuskanku untuk siap ditempatkan dimana saja. Saat ini, aku harus menangani sebuah perusahaan manufaktur di Bogor yang mengakibatkan aku harus mencari tempat pemondokan di kota hujan itu. Untunglah, tanpa sengaja aku bertemu dengan guru SD ku yang kebetulan memiliki rumah besar di Bogor dan ia mempersilakanku untuk menyewa salah satu kamar di rumahnya.

“Ibu, apa kabar..” sapaku sambil menyalami ibu Eva. Ia adalah guru kesenian dan bahasa SD ku di kawasan menteng Jakarta. Dalam usianya yang ke 40, ia masih tanpak muda dan segar. Wajah dan tubuhnya sangat mirip dengan Ully Artha pemain sinetron yang juga sudah berusia kepala 4 namun masih saja cantik itu. Dengan baju santai berpotongan leher V, ibu guruku itu nampak seksi sekali. Belahan buah dadanya yang belum terlihat kerutannya itu tampak menyembul dan menunjukkan huruf Y yang tegas. “Baik Fi.. gimana keluargamu? Baik?” jawabnya tersenyum manis. “Alhamdulillah, baik bu” “kalau begitu masuk deh.. sini biar ibu bantu..”bu Eva membungkukkan badannya hendak membantu membawa barang-barangku. Ketika itu pula tampak kedua buah dadanya yang besar bergayut di hadapanku. Buah dada yang putih itu ditutupi oleh BH tipis berwarna hitam. Sayang putting susunya tak sempat terlihat. “eeh.. jangan bu.. biar saya bawa sendiri..”

Rumah bu Eva sungguh asri dan besar. Ada 5 kamar tidur dengan 2 kamar mandi. Rumah yang besar itu dihuni oleh bu Eva, adiknya Atika, dan anaknya Maria. Ketika itu, para pembantunya belum pulang dari mudik lebaran. Di rumah itu tak ada laki-laki yang tinggal. “Sejak ibu ditinggal kawin lagi oleh suami, rumah ini tidak pernah ada penghuni laki-lakinya. Suami Atika kan pelaut. Ia datang kesini 4 bulan sekali. Itupun hanya sebulan tinggal, kemudian berlayar lagi… kamu adalah lelaki pertama yang kembali menghuni rumah ini.. wellcome..” Keluarga ini adalah keluarga pecinta musik. Demi cintanya pada musik, dibuatlah sebuah kamar kedap suara dan — entah kenapa juga kedap cahaya — untuk dipakai bermain piano sepuas-puasnya. Di ruangan itu juga terdapat ranjang tua terbuat dari rangka besi. Belakangan aku tahu bahwa ranjang itu selalu digunakan oleh bu Eva untuk melepaskan penatnya setelah bermain piano.

Kamarku ternyata sangat lengkap. Tempat tidur busa ukuran king size, AC, meja kerja, dan meja rias. “Hehe.. ibu tau kamu ngga perlu itu” katanya tersenyum geli sambil menunjuk meja rias. “Tapi ibu ngga tau mesti ditaruh dimana lagi..” “nggak apa lah bu.. jangan repot-repot.. fasilitasnya diatas ekspektasi saya.. terimakasih banyak..” Kami berdua duduk di pinggir ranjang, dan bercerita tentang masa kecil ku. Ia menceritakan betapa pangling dirinya melihatku yang tumbuh menjadi pemuda berusia 25 tahun yang tegap. “Tapi nggantengnya ngga berubah kok..” candanya. Ia juga menceritakan tentang keluarganya. Mantan suami bu Eva — yang bernama Irwan –ternyata masih sering mengunjungi anaknya di rumah itu paling sedikit sebulan sekali. “Sesak rasanya Fi.. kalau mengingat itu.. tapi apa boleh buat.. itu yang terbaik buat Maria..”. Perempuan setengah baya itu sudah menjanda 7 tahun lamanya. Tak dapat kubayangkan bagaimana ia memenuhi kebutuhan biologisnya. Dan aku tahu ia bukan tipe perempuan penganut paham free sex. Bu Eva membaringkan tubuhnya di atas ranjangku sambil meletakkan tangannya di belakang kepala. Posisi itu membuat bajunya tertarik ke atas dan memperlihatkan buah dadanya yang tertekan oleh tarikan bajunya itu. Tampak garis BH nya tercetak dengan jelas dan.. my god.. kedua putingnya yang cukup besar itu juga terlihat jelas tercetak di dadanya. Posisi itu juga membuat kedua pahanya yang putih itu tersingkap. Duuhh..mulusnya.. kuperhatikan bentuk kakinya yang indah belum termakan oleh usia. Memang ada beberapa bagian yang sudah ada guratan lemaknya.. namun secara keseluruhan kaki itu bisa dibilang perfect. “Ibu rajin fitness ya ??” tanyaku spontan sambil memandang pahanya “kok tau ??” “habis badan dan paha ibu terlihat masih kencang .. tanda ibu rajin berolah raga..” Ibu Eva tersenyum manis padaku sambil dengan segera membenahi posisi badannya dan menutupi kedua pahanya. Mukanya tampak memerah karena malu bercampur senang. “that is very sweet Rafi.. terima kasih.. ini pujian pertama yang ibu rasakan bukan gombal dari seorang laki-laki sejak ibu menjanda..”

Sore itu aku diperkenalkan pada Atika dan Maria. Atika adalah adik perempuan bu Eva yang berusia 35 tahun. Badan dan wajahnya mirip Dian Nitami. Tinggi, berhidung masam, pinggul besar dan buah dada sedang. Ia tampak seperti seorang wanita yang kesepian. Dari cara bicaranya yang selalu meminta perhatian terlihat sifat kekanak-kanakannya yang masih kental. Maria nampak lebih dewasa dari Atika. Ia gadis berumur 18 tahun berbadan tinggi, kulit agak gelap, mata besar dan muka oval. Dengan gaya rambutnya yang keriting basah itu, ia tampak lebih tua dari umurnya. Maria mewarisi sifat keibuan bu Eva. Tidak seperti Atika yang cerewet dan bersuara keras itu, Maria lebih sabar dan bersuara lembut.. persis seorang putri kraton..
Malam itu aku tak bisa tidur. Entah kenapa, wajah dan tubuh bu Eva selalu membayang di pelupuk mataku. Buah dadanya yang berukuran 36, kakinya yang mulus, wajahnya yang mirip ully artha.. my.. I can’t believe that she is 40 … dan harus kuakui perempuan itu membuatku terangsang .. hasratku untuk menidurinya begitu menggebu.. bahkan dengan berpikir seperti ini saja sudah membuat penisku berdiri.. oh ya bicara soal penis.. aku dianugerahi penis berukuran cukup besar.. 16 cm dengan diameter 3-4 cm.. bila sedang berdiri bentuknya persis seperti pisang ambon berukuran besar.. well terus terang.. senjataku ini cukup digila-gilai teman-teman kencanku.. nah.. kembali soal guruku tadi, aku juga yakin ia sebenarnya mempunyai keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan sentuhan seorang lelaki.. hanya saja ia menekan kuat-kuat hasrat itu.. tapi bagiku untuk begitu saja menidurinya tentu tidak mungkin.. harus ada jalan halus untuk mencapai tujuan itu.. aku terus berpikir dan berpikir dan berpikir.. sampai akhirnya …aku tertidur

Seminggu sudah aku tinggal di rumah bu Eva. Aku sudah mulai hafal dengan kebiasaan hidup perempuan itu. Dari pagi sampai sore 5 hari seminggu, ia mengajar di sebuah lembaga bahasa inggris terkenal di Bogor. Malamnya, aku perhatikan bahwa sehabis bermain piano sepuas puasnya ia pasti tertidur di kamar kedap suara itu.. dan kalau ia sudah bermain piano, tak ada seorangpun berani mengganggunya.. aku melihat sebuah peluang disitu.. dan seketika itu sebuah rencana tercipta di benakku.. besok adalah malam minggu.. hari dimana bu Eva menghabiskan malamnya dengan bermain piano.. hari dimana Atika dan Maria tidak berani mengganggu ibunya ..

Malam minggupun tiba.. selesai mandi dan makan malam aku hampiri bu Eva “bu.. boleh saya temani ibu bermain piano? Saya juga penikmat musik klasik..” “tentu Fi.. be my guest.. tapi keliatannya kamu bakal jadi satu-satunya penonton, karena Atika dan Maria mungkin pulang agak larut..” “nggak apa bu..”kataku tersenyum.. yes.. my plan is running quite well so far.. tepat jam 8 malam pintu ruang piano ditutup dan AC pun dinyalakan.. semenit kemudian alunan lagu-lagu klasik karya Mozart, Johan Strauss, dan beethoven pun mengalun dengan merdu dari jari-jari lentik bu Eva. “bu.. kalau haus ini saya siapkan minumnya..” “Okey.. oh.. you are so sweat fi.. thanks..” Dengan sekali tenggak bu Eva menghabiskan sirup dingin yang telah kucampur dengan obat tidur itu..setelah itu aku langsung pamit “bu, saya mau pergi ke luar dulu cari angin.. setelah itu saya akan langsung tidur..” “Okey.. selamat jalan-jalan.. sampai besok ya?” bu Eva tersenyum manis padaku sambil menghentakkan symphoni ke 9 nya beethoven. Aku keluar dan menutup pintu.

Setengah jam kemudian, kubuka kembali pintu ruang piano perlahan-lahan. Tak ada suara terdengar dari ruang kedap suara itu. Aku menyelinap masuk, kukunci pintu, dan kulihat bu Eva tidur terlentang di ranjang tua di sisi piano itu. Gotcha ! rupanya KO juga dia terkena obat tidurku. Wah.. mudah-mudahan reaksinya tidak terlalu keras.. soalnya, bisa merusak seluruh rencanaku… Saat itu ia menggunakan daster terusan berwarna putih dengan belahan dada rendah. Buah dadanya menyembul dari BH tipis berwarna putih. Kedua kakinya terlihat mengangkang seakan menanti seseorang untuk menindihnya. Melihat tubuh tak berdaya itu, mendadak celanaku terasa sempit. Penisku sudah dalam keadaan tegak berdiri.

Dengan cepat kubuka daster ibu Eva dan kupeloroti dari tubuhnya. Seketika itu aku terpesona melihat tubuh yang masih sintal itu tergolek mengangkang dihadapanku hanya mengenakan BH dan celana dalam tipis. Pori-pori buah dadanya begitu jelas di mataku. Dan putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman tampak jelas dibalik BH tipis berwarna putih itu. Ketiaknya yang putih dan wangi itu ditumbuhi oleh bulu-bulu hitam yang cukup lebat. Di selangkangannya kulihat gundukan daging yang tertutup oleh bulu-bulu yang juga lebat. Sedemikian lebatnya, sehingga begitu banyak bulu-bulu kecil yang menyelip keluar dari celana dalamnya. Kata orang wanita yang berbulu lebat memiliki libido yang tinggi.. wow.. this must be my lucky day !! Model CD nya benar-benar membuat aku terangsang .. yaitu model CD yang menggunakan tali sehingga dengan satu kali tarikan celana itu akan terbuka..Ouwwhh.. ingin rasanya aku segera menggumuli tubuh itu.. but wait..that was not the plan.. so, dengan segera ku keluarkan beberapa sapu tangan yang sudah kupersiapkan, lalu aku ikat kedua tangan bu Eva ke jeruji ranjang besi dekat kepalanya, dan kuikat juga kedua kakinya ke jeruji ranjang besi dekat kakinya. Kupandangi wajah cantik yang mirip ully atha itu.. kemudian dengan lembut kubelai keningnya.. terus turun ke pipi..bibir..dagu..leher.. terus ke dada..kuputar-putarkan tanganku disekitar buah dadanya yang besar sebelum kuselipkan tanganku ke balik BHnya dan seketika itu tanganku dipenuhi oleh gumpalan daging yang kenyal dan empuk berukuran besar itu. Alangkah menggairahkannya buah dada bu Eva..”emhhh..” tiba-tiba bu Eva bergumam sambil mengeleng kepalanya ke kanan.. dengan cepat kutarik tanganku dari balik BH nya dan kumatikan lampu kamar. Ruang yang kedap cahaya itu langsung gelap gulita.. aku bahkan tak dapat melihat tanganku sendiri.. dengan meraba-raba aku kembali duduk di pinggir tempat tidur dan mencari tubuh permpuan itu. Tangan kiriku memegang paha kiri bu Eva. Dengan perlahan aku mengusap bagian dalam paha kiri bu Eva..kunaikkan tanganku lebih ke atas… terus sampai batas selangkangannya.. seketika itu tanganku memegang gundukan daging yang ditutupi oleh bulu-bulu lebat yang masih ditutupi oleh celana dalamnya yang tipis.. jariku mulai menggosok-gosok gundukan daging itu.. ke atas dan ke bawah sementara itu telapak tangan kananku menyusup ke balik BH nya yang terasa benar terlalu kecil untuk buah dada berukuran 36 itu…dengan bernafsu kuremas-remas buah dada montok itu.. “Ohh..ooohh..” terdengar suara guruku itu yang nampaknya sudah mulai sadar dari tidurnya. Tiba-tiba kurasakan seluruh otot tubuhnya menegang.. bu Eva mencoba bangkit dari tidurnya..”A..apa..apaan ini ??” terdengar suara perempuan itu berteriak “kok gelap sekali?? Si..siapa kamuh..hh?? Ahhhh.. jangan sentuh saya !! lepaskan tanganmu dari dada saya.. kurang ajar !! lepaskan ikatan tangan dan kaki saya.. tolooong…tolooong..” ia memperkuat jeritannya. Sebuah perbuatan yang sia-sia di ruang kedap suara itu. Bersamaan dengan itu bu Eva mulai meronta-ronta kekiri dan kekanan. Rontaannya yang kuat sempat membuat aku kawatir akan melepaskan ikatan tangan dan kakinya.. namun setelah beberapa saat, aku yakin ikatanku cukup kuat. Akibat gerakannya itu, buah dadanya juga ikut berguncang ke kiri dan kanan. Terasa nikmat di telapak tanganku. Perlawanan bu Eva membuat aku semakin bernafsu. Dengan kasar kutarik BH nya hingga robek, dan dalam kegelapan kudekatkan bibirku ke buah dada kiri bu Eva , dan seketika itu juga kumasukkan hampir separuh dari dada montoknya ke dalam mulutku. “Ohh.. ohhhh.. ooohh..” bu Eva masih meronta dengan nafas yang mulai memburu..”Ohhh.. get off your mouth from my breast !! Siapa kamu ??” kembali terdengan ia menjerit.. “Irwan !! kamukah itu ?? Irwan !! ini tidak lucu !! lepaskan aku !!!” rupanya ia menyangka aku bekas suaminya.. “Irwan !! Aku tau kamu suka dengan permainan ikat mengikat ini !!! Aku juga tau kamu masih berharap untuk bisa menikmati tubuhku lagi .. tapi sejak kamu menyakiti aku.. aku sudah bersumpah sampai matipun tak akan kuberikan tubuhku lagi padamu.. ouuuuhhh… ouuhhhh..” teriakannya bercampur dengan rintihan-rintihan kecil ketika tangan kiriku yang sedari tadi mengusap-usap perutnya dengan cepat kuselipkan kedalam CD nya. Ahhh..Jembutnya yang lebat itu memenuhi telapak tanganku. Jari telunjuk dan tengahku kugunakan untuk menyibak bulu-bulu itu untuk mencari pintu masuk ke vaginanya. Begitu tersentuh, kuletakkan jari tengahku di sepanjang pintu tersebut. Terasa benar kelembabannya semakin meningkat. Ujung jari tengahku menyentuh ujung bawah vaginanya dan pangkal jari tengahku mencari-cari klitorisnya..kuputar-putar sejenak jari tengahku itu sampai kutemukan sebuah tonjolan yang sudah terasa bengkak di pangkal vaginanya. Dengan cepat kuputar-putar dan kugesek-gesek klit nya yang semakin lama terasa semakin bengkak. “Ohhh..Ohhhh..” rontaan perempuan itu mulai mengendur dan rintihannya terdengar semakin kuat..kupermainkan lidahku di ujung putingnya yang terasa mulai mengencang dan sesekali kugigit dengan lembut.. “Ohhh.. ahhhh.. who are you..siapa kamuuhh.. ohh.. tolong… whoever you are.. jangan perkosa saya.. please..” rintihnya dengan suara serak. Sambil terus memainkan klit nya kulepaskan sedotanku di dadanya dan menjawab dengan suara yang disamarkan “I am not gonna rape you maam.. I only want to love you…with my touch.. I know you want it.. I know you want it so bad..” perempuan itu terdiam sejenak. Bibirku kembali menyusuri buah dadanya dari sebelah kiri menuju ke kanan ketika sampai pada puttingnya dengan sedikit kasar kusedot daging kecil yang sudah menegang itu “yess.. I want it so bad..I want it so bad for long..” bisiknya mengakui pernyataanku seraya menggelinjang kegelian “hhhh…but I don’t want to do it this way.. I want to see your face.. I want to touch your body.. I want to touch your..” Kuhentikan sedotanku diputingnya dan kuhentikan juga aktivitas jariku di selangkangannya dan dengan cepat kuturunkan resleting celanaku lalu kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang seperti pisang ambon itu.. “you wanna touch this maam ?” kataku melanjutkan kata-katanya seraya dalam kegelapan menempelkan penis tegangku di pipi kirinya..terasa bu Eva menggesek-gesekkan pipinya di penisku.. ia menggerakkan kepalanya untuk membelai penisku dengan pipinya seakan ia sedang menyayangi kucing piaraannya.. tiba-tiba kurasakan bahwa ia menggerakkan kepalanya dan berusaha untuk menggapai penisku dengan mulutnya.. oh no you don’t .. kataku dalam hati..ini belum saatnya.. lalu dengan cepat kugesekkan penisku itu perlahan-lahan ke lehernya.. turun terus ke dada.. di atas bukit kembar yang montok itu kugesekkan bagian bawah kepala penisku ke putingnya yang.. wow.. sangat tegang itu.. “ohh noo…god…please don’t do this to me.. tolong lepaskan ikatan kakiku please..ooohhh..” terasa oleh tangan kiriku bahwa bu Eva sedang berusaha merapatkan kedua pahanya untuk digesekkan satu sama lain. Usaha tersebut tentu saja sia-sia.. karena kakinya kuikat dalam posisi mengangkang. Gairah bu Eva yang mulai memuncak mendorongnya untuk merasakan klitnya digesek-gesek untuk mencapai puncak kepuasannya.. Dengan intens aku masih menggesek ujung penisku ke putting susunya, bahkan cairan licin yang sudah keluar dari lubang penisku kutempelkan di ujung putingnya untuk kugesek-gesekkan lagi sehingga terasa licin di bawah kepala penisku.. suara ranjang besi itu kini berbunyi dengan irama beraturan menandakan tubuh bu Eva yang menggeliat-geliat menikmati sensasi-sensasi erotis yang kuberikan padanya. Bisa kubayangkan dalam gelap, dengan kedua tangan dan kaki terikat di sisi kiri dan kanan kasur, bu Eva menggerak-gerakan pinggulnya dan menendang-nendang kakinya untuk bisa segera melepaskan diri dari ikatan dan merapatkan kedua kakinya.. “kamu bukan Irwan..ohhh..I am sure you are not him..” bisiknya serak ketika kuturunkan penisku dari buah dadanya menuju perutnya. Penisku dari ujung hingga testis kuletakkan di atas kulit perutnya yang mulus itu. “Its not his size.. its too big for him.. oohhhhh.. please.. who are you ?” rintihnya penasaran karena tak bisa melihat laki-laki yang tengah memberikannya kenikmatan yang telah lama tak diperolehnya itu.. “I am one of your student.. saya sangat mengagumi tubuh ibu yang masih sangat menggairahkan ini.. dan saya sangat mudah terangsang oleh tubuh sexy seorang wanita seusia ibu.. I am your secret admire bu.. I want to help you to get something you miss for along time…” bisikan manisku itu ternyata membuat bu Eva begitu terangsang sehingga ia menggerak-gerakkan pantatnya naik turun dengan keras seperti orang yang tengah bersenggama sambil mengerang dengan keras “Ooohh please.. do what ever you want..please.. don’t make me suffer any longer…” Dapat kubayangkan betapa merangsangnya kedua buah dada montoknya ikut terguncang kesana kemari seiring gerakan-gerakan histerisnya.. Dengan segera pula kubuka baju dan celanaku sehingga dalam waktu 20 detik aku sudah bugil. “Oohh.. I wish I could see you..” ibu Eva merintih ketika ia mendengar aku membuka seluruh pakaianku..”kenapa lampunya ngga dinyalain aja sih..? kamu takut apa? Don’t worry.. saya ngga akan marah.. I am yours tonight..” Tanpa menjawab pertanyaannya aku menaiki ranjangnya dengan posisi bertekuk lutut diantara dua kakinya yang mengangkang itu. Kuraba bagian pinggul wanita yang masih tertutup celana dalam itu. Kupegaang tali CD nya dan dengan sekali tarik jatuhlah penutup terakhir tubuh ibu guruku itu. Aku mendekatkan mukaku ke selangkangannya yang basah olehh keringat itu dan seddetik kemudian mulutku sudah terbenam dalam rimbunan rambut hitam yang melindungi vaginanya. Bibirku dengan cepat menemui klitorisnya dan dengan lembut kusedot-sedot sambil sesekali kugigit “AAAHHH..GOOOOODDDD…nikmatnya.. terus.. terruuusss… ” rintihnya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Kunaikkan bibirku ke arah perut dan kutelusuri keatas menuju buah dadanya..sesampainya disana kugesekkan muka,pipi dan hidungku ke bukit kembar yang montok itu sementara penisku menempel di atas vaginanya. “o my god.. o my god.. ooohhhh..untie me pelleaaaase…!!!” jerit wanita berusia 40 an itu ketika penisku menggesek-gesek klitnya. Pinggulnya diangkatnya dengan liar setinggi-tingginya untuk menggesekkan klitnya ke penisku. Terasa benar vagina bu Eva sudah banjir. Gesekan penisku di mulut vaginanya mengeluarkan suara kecipak yang keras. “Oohh kiss me please..kiss mee..ouhh..” desahnya sambil mencari cari bibirku yang masih sibuk mengulum kedua putting susunya bergantian. Aku sengaja tak ingin menciumnya karena bila kulakukan maka dengan segera ia akan mengenaliku.. Aku sudah amat terangsang dan dengan segera kupegang penisku, kutempelkan di pintu vagina yang sudah teramat sangat becek itu , lalu kuedesakkan perlahan-lahan mengingat vagina ini sudah tidak pernah kemasukan penis selama hampir 7 tahun ! Ternyata ukuran diameter penisku agak menyulitkan penetrasi kali ini.. baru kusadari kalau vagina bu Eva ternyata berukuran cukup kecil.. “Aaaahh..aaaakkhh.. pelan-pelaaannn.. pelan-pelaaannhh..ouh.. its soo biig..hh” kumasukkan lagi penisku hingga setengahnya, bu Eva kembali menjerit kesakitan.. dari suaranya kutahu ia menggeleng-gelengkan kepalanyadengan keras ke kiri dan ke kanan.. aku menjadi kasihan “Do you want me to stop maam?” “NOOOOO..please don’t … its hurt at the beginning.. tapi ennaakkhh.. AAAAAKHHHHH…” bu Eva menjerit keras ketika ku amblaskan seluruh penisku sedalam-dalamnya di liang vagina ibu guruku yang cantik itu.. beberapa saat kami terdiam … terdengar suara nafas perempuan itu tersengal-sengal dan dari suara nafas dan desahnya.. ku tahu ia tengah meringis merasakan kombinasi antara rasa perih dan nikmat.. tiba-tiba bisikannya memecah kesunyian..”Oohhh.. it has been sooo long since last time I had this thing inside me..ohhh…” bu Eva mulai menggoyang pinggulnya naik turun sambil berputar-putar.. penisku yang juga mulai kugerakkan naik turun merasa seperti dipilin-pilin.. ohh benar-benar nikmat.. ditambah lagi dengan buah dadanya yang besar itu terasa betul nikmatnya tergencet oleh dadaku.. Tubuhku meindih tubuh sintal bu Eva yang tak berdaya terikat kaki dan tangannya di ranjang.. tanganku menyangga badanku dengan siku. Telapak tanganku kadang meremas buah dadanya, kadang mempermainkan bulu ketiaknya yang sudah basah oleh keringat itu.. kedua tubuh kami yang saling bergesekan itu terasa licin oleh keringat yang sudah bercampur dengan lendir dari vaginanya dan penisku..setiap tusukan penisku selalu diikuti oleh jeritan histerisnya..”aahhh..aaahhh..aahhh..” Tiba-tiba.. TUUUUUT terdengar suara telephon antar kamar yang terletak di dinding sebelah kiri piano berbunyi.. “Eva..Eva.. kamu di dalam ?” terdengan suara wanita di speaker telephone itu.. “my god !! Atika!!!!” suara bu Eva terdengar kaget seraya menghentikan goyang pinggulnya..”Eva .. are you in there?? Jawab doongg..” suara Atika kembali terdengar ..”Ayo cepat.. bukakan ikatannya.. I have to answer her.. kalo ngga dia bisa curiga.. o my god.. omy god..” bu Eva kedengaran mulai panik. “Oke hang on..” kataku tersenyum sambil melepaskan ikatan kakinya. Sementara itu penisku masih dengan tenang berbaring tegak di dalam vaginanya. Ketika kakinya terbebas, dengan refleks bu Eva merangkulkan kakinya ke pinggangku. Aku mulai kembali memompakan penisku keluar masuk keluar masuk dengan irama yang makin cepat.. sementara tanganku melepaskan ikatan tangannya. “Eva… is everything OK?? Jawab dong.” Kembali suara Atika terdengar…Begitu kedua tangannya terlepas, aku kembali menindih tubih sintal itu dan dengan cepat mencari bibirnya yang sedikit lebar dan seksi itu.Ketika bibirku bertemu dengan bibirnyya, tanpa membuang waktu kulumat sampai habis.. dan tanpa kusangka bu Eva segera memeluk leherku dan membalas ciumanku dengan sangat ganas.. kami saling mengulum lidah.. dan goyangan pinggulkupun ku percepat.. “Mmmmphh.. mmmmmmhhhh.. mmmhhh..” jeritnya sambil terus mengulum lidahku..”Eva.. aku seperti denger suara-suara jeritan kamu di dalam sana.. are you OK or its just me..” suara Atika mulai terdengar kawatir.. bu Eva melepaskan ciumannya dan meletakkan tangannya didadaku untuk menghentikan gerakanku seraya berkata..”please..stop.. saya harus jawab Atika.. kalo ngga she will spoil the whole thing..” aku seperti kesetanan memegang kedua tangan perempuan itu dan ku lentangkan di tempat tidur “she can wait..” kataku sambil mempercepat hujaman penis besarku ke dalam vagina sempit dan becek guruku itu. Suara ranjang bercampur dengan kecipak vagina bu Eva dikombinasikan dengan jeritan-jeritannya sungguh membuat nafsuku naik ke kepala. Bibirku mencium dan menjilat kuping bu Eva sehingga ia menggelinjang kegelian.
“Evaa.. answer me..” suara Atika lagi-lagi terdengar
“AAAHHH.. AAAAHHH.. AAAAHHH..” bu Eva menjerit-jerit sambil tetap mengimbangi genjotan penisku. Kedua tubuh kami berguncang-guncang dengan cepat..
“Eva if you don’t answer..”
“AAAAHHH…faster..faster… AAAAHHH…” pinggul kami bergoyang semakin cepat..
“if you don’t answer Eva..”
“OOHHHH YES.. YESSS…sebentar lagi saya mau..sebentar lagiihh..’ buah dadanya berguncang semakin cepat..
“I’ll call the police..!!”
Hening sejenak.
Kami berdua tertegun mendengar suara Atika. Goyangan pinggul kami tiba-tiba terhenti. Namun dengan cepat ku gendong tubuh bu Eva tanpa melepaskan penisku dari vaginanya. Kupegang kedul buah pantat bu Eva yang merangkulkan kedua kakinya di pinggangku dan kedua tanganku di bahuku.. kubopong tubuh sintal itu ke dekat telephone..”Eva…”"YESSSS Atika.. I’AM ALIVE !!!” bu Eva menjawab Atika dengan nada kesal..dan nafas yang tersengal sengal.. “kok lama banget sih ?? aku kan kawatir.. soalnya aku denger ada suara kamu menjerit-jerit.. cuma aku ngga yakin soalnya ruangan piano kan kedap suara..” sambil tetap dalam posisi menggendong , kucium buah dada bu Eva dan ku gigit putting susunya.. “NO.. NO.. auwhhh.. IT’S.. IT’s ONLY YOUR IMAGINATION..aahhh..sss..” “Eva are you OK? Is there somebodyelse with you ?” kusedot putting susu kirinya dan kuputar-putar pinggulku sehingga penis besarku mengocok-ngocok vaginanya “ouuhh.. cut it out will ya..” bisiknya manja di kupingku “YES, I AM OK ..TIKA.. AND I AM ALL ALONE.. AS USUAL.. GOOD NIGHT.. and have a nice sleep..AAAAHH..” gagang telephone terjatuh ketika dengan ganas aku mulai mengangkat dan menurunkan pantat bu Eva sehingga vaginanya keluar masuk penisku. Tiba-tiba PYAAAARR.. ruangan menjadi terang benderang.. oh my god !! whats happening !! who is turning on the light ? Mataku berkunang-kunang karena tak terbiasa dengan terang.. semenit kemudian.. kulihat wajah bu Eva yang dibasahi oleh keringat tampak terpana melihat wajahku..tangannya masih memegang saklar lampu yang terletak tepat di sebelah telephone.. “Rafi.. ITS YOU ??.. oh my god .. ibu ngga nyangka kalo itu kamu.. oh my godd… Rafi… YOU’RE FUCKING ME !!! YOUR FUCKING YOUR OWN TEACHER !!” “Yeaah ” jawabku sambil mempercepat naik turunnya pantat bu Eva “and you like it right ??” “OUHHH.. DAN KAMU LUAR BIASA….AAAHH..” bu Eva melingkarkan tangannya di leherku dan mulai menciumi bibirku. Mula-mula ia mencium-cium kecil kedua bibirku, kemudian ia mulai menggigit kecil bibir bawahku. Tiba-tiba dengan ganasnya ia menguak mulutku dengan kedua bibirnya dan seketika itu juga kurasakan lidahnya sudah menjilati langit-langit mulutku dan sesekali lidahku disedot oleh mulutnya yang lebar seksi itu. Sambil mencium dan mengulum lidahku bu Eva terus menerus menjerit dan merintih seiring dengan pergerakan pinggulku. Beberapa saat kemudian kurebahkan tubuh bu Eva kembali diatas ranjang. Kami berdua saling memandang penuh sayang sambil terengah-engah. Tubuh sintal bu Eva terlihat mengkilat oleh keringat yang bercucuran. Buah dadanya penuh dengan tanda merah bekas sedotanku. Kembali kami berciuman penuh gelora dan kasih sayang. Kaki bu Eva melingkari pinggangku dan tangannya memeluk erat leherku. Kupompakan kembali penisku dengan cepat.. “OOHH..RAFI HONEY..saya mau keluar..”"Yeah.. me too bu..me too.. ohhh..” pinggulku bergerak melingkar mengikuti goyangannya. Penisku mulai terasa berdenyut-denyut.. kami kembali berciuman dengan penuh nafsu.. kurasakan otot-otot bu Eva mulai mengejang.. “OOOH..HONEY..HONEY.. I’M COMING.. I’M OMIIINGG..EMMMMMMHHHHHHH..” bu Eva mengangkat pinggulnya setinggi-tingginya.. tangannya memeluk leherku dengan keras.. dan mulutnya menyedot bibir dan lidahku dengan kuat.. ketika itu juga aku merasakan sesuatu yang melesat kuat dari batang penisku menuju ujungnya.. dan …”Aaaahhh..ibu..ibu.. saya juga…aaahhh..” aku menggelepar-gelepar dan penisku memuncratkan maninya yang sangat banyak itu ke vagina bu Eva yang juga tengah mengeluarkan cairan orgasmenya.. kontraksi vaginanya terasa sangat luarbiasa memilin-milin penisku.. tubuh kami ambruk saling bertindihan dengan lemas.. tak terasa 1 jam lebih kami melakukan permainan ini.. kuangkat kepalaku dari sisi kepalanya. Kupandangi wajah cantik yang kini berwarna kemerahan karena letih.. aku tersenyum..”You are so beautiful bu..” kataku sambil mengecup keningnya.. dan ia mendekapku dengan mesra.. penuh kasih sayang.. dan .. “I love you honey..”bisiknya sambil mengecup bibirku dengan lembut.

Aku berguling ke samping dan berbaring di samping bu Eva sambil memandang langit-langit.. “bu.. menurut ibu, Atika curiga nggak?” tanyaku sambil memeluk tubuh bugil guruku..”Naah.. don’t worry about her.. saya akan cari alasan kenapa suara saya seperti sedang lari marathon waktu ngomong sama dia.. my goodness..” “so, whats your plan for tomorrow bu??” “my plan ? well .. let me see.. beli obat anti hamil.. dan.. jamu kuat.. untuk menandingi si ini nih..”katanya seraya meremas penisku dengan gemas. Remasannya itu ternyata seperti listrik bagi penisku. Mendadak ia membesar dan berdiri tegak hingga nyaris mencapai puserku. “my god.. barangmu sudah berdiri lagi Fi.. ” bu Eva bangkit dari tidurnya memandangnya dengan takjub seraya mengelus-elus penisku yang sudah mulai berdenyut-denyut menanti ronde berikut.. “and look at him..” sambungnya dengan nada kagum “I ‘ve never seen such a real big thing like this.. saya ngga percaya barusan benda ini ada di dalam vagina saya..” “ready for the second round bu ?” tanyaku sambil mulai menggerayangi buah dadanya.. “no honey.. this is too shocking for me.. I am a little bit tired.. lets save it for tomorrow okey ? and one more thing.. please call me mbak Eva, will ya..” aku tersenyum lebar “sounds more sexy to me…” dan kamipun berciuman dengan mesra sekali.

RINA,… LIA, …. RASANYA INI JEBAKAN

RINA,… LIA, …. RASANYA INI JEBAKAN

Akhirnya aku sampe ke halte. Gak begitu lama bus PPD jurusan Pasar Baru - T. Priok dah datang. Penumpang gak begitu banyak. Masih ada bangku kosong, kebetulan buat gue. Disamping bangku yang gue duduki dah diisi seorang perempuan. Kalo gue taksir, kira-kira usia perempuan itu sekitar 28-30 taon. Body bagus dengan betis putih mulus tanpa dibalut stoking dan bulu-bulu halusnya terliat jelas. Potongan rambut biasa, berombak. Tentu tanpa poni. Sekilas terlihat dia tersenyum saat gue menyapa dia.
” Hai, permisi.” sambil memposisikan duduk gue sambari membalas secuil senyuman dia. Hmmm…ada bau harum yang menyengat ke hidung gue. Ugh..baunya khas…enak. Dan sekali lagi gue kelontarkan senyuman ke dia. Hah…lumayan juga neh perempuan, bisikku kagum dalam hati. Sekilas terbentuk indah payudara, mungkin ukuran 36. Paling tidak 34, entahlah. Busananya pun lumayan sexy dengan leher agak rendah. Wow..leher dan dadanya pun sangat menantang, mulus.

Dan bus pun dah berjalan pelan tersendak. Biasa Jakarta dengan segala macam ketidaksabaran para sopir bus kota. Sreeettttt…derik bunyi ban. Tanpa sengaja karena refleks gue, maksud gue mao memegan plang besi sandaran kursi depan. Tapi karena tengan perempuan itu telah dari tadi memegang plang kursi itu maka tanpa bisa dihindari tangan gue gak sengaja memegang tangannya.
” Aduh, maaf. Tidak sengaja.” pintaku dengan sedikit embel senyum.
” Oh..gak pa-pa.” jawabnya dengan membalas senyuman juga. Yap, dengan berbasa-basi gue sedikit akrab ke dia. Maksud gue jelas, mau kenalan. Iseng aja, siapa tau bisa. Hm..dia berespon. Terjadilah perkelan dan ngobrol ringan dengan dia. Namanya Rina, gawe di sebuah perusahaan asing, Oil Company, berkantor di daerah Sudirman. Rina kost di daerah Priok. Kebetulan, katanya, dia abis main di tempat temannya di Pasar Baru. Ngobrol kami sekitar 35 menit karena gue dah harus turun di Plumpang. Tapi sebelum itu, Rina dah memberikan kartu namanya sambil bilang,
“Ndi…Aku tunggu tlp kamu ya. Bye.” harapnya. Hah haa..ada nada gembira dalam hati gue. Bagus…siapa tau aja.
” OK.” jawabku singkat.

HINGGA SUATU KETIKA, EMPAT HARI KEMUDIAN :

Ahaaa, aku ingat sekarang. Hm..ini kan kartu nama cewek yagn kenalan di bus kota beberapa hari yang lalu. Begitu pekik girang gue dalam hati. Mo telpon ah…kali aja dia masih ingat..dan bisa kenal lebih jauh…heheh.. siapa tau aja. Gue dial nomer yang tertera di kartu itu.
” Halo. Selamat pagi. Bisa bicara dengan Rina.”
” Ya. Semalat pagi. Saya sendiri Rina. Ada yang bisa saya bantu ?”
” Hi, Rina, gue neh Andi. Masih ingat ? “
” Oh, Andi apa kabar kamu. Hm, napa baru telpon sekarang.?
” Aduh, iya neh sibuk. Tapi sekarang dah telpon kan.”

Begitulah awal percakapan di telpon itu. Hingga akhirnya sepakat untuk temu di Counter Dunkin Donat di Plaza Atrium Senen selepas jam kerja sore itu.
Sesuai janji sore itu, hm.. lebih tepat kalo malam itu, gue temu dengan Rina di tempat janji. Wah, kelihatannya saat itu Rina ada masalah, dan itu dia tuturkan panjang lebar. Masalah di kantornya. Katanya dia punya teman sekantor yang sering kurang ajar ke dia, lebih tepatnya kalo dibilang itu pelecehan seksual, tuturnya. Gue menanggapinya dengan serius dan memberikan atensi yang baik dengan ceritanya itu.

Singkat cerita, gue ngaterin dia ke kost-nya. Hm..malam kira-kira dah jam 20:26 wita (?). Belum begitu malam seh. Gue dipersilahkan masuk ke kamarnya karena kost-nya tidak tersedia ruang tamu. Minum kopi sebentar katanya lagi. Ahh… okelah. Gue menyambut gembira tawaran ini, tapi gak gue ekspresikan terlalu. Takut nanti ketahuan kalo gue emang sebenarnya sangat mengharapkan ini. Ahh haaaa… :) Sementara gue duduk di lantai dengan alas karpet merah hati bermotif bunga warna biru dan kuning, Rina melepaskan jas krem-nya.

” Santai aja And. Kamu buat sendiri aja minuman yang kamu mau.” gue melihat-lihat sekeliling kamarnya. Lumayan apik juga tatanannya. Warna tembok biru langit (biru mudah sekali). Warna yang tepat buat suasana romantis, pikirku.

Rina duduk di depan gue. Kebetulan dia pake celana panjang warna krem juga, sesuai dengan kulitnya yang putih. Dia mengenakan baju kaos ketat warna hitam. Wow..dan tampak jelas bentukan gunung kembar di pelataran dadanya. Hm… perempuan ini ternyata mempunyai bentuk tubuh yang bagus. Buah dada yang begitu menantang dengan bra putih yang terlihat samar. Hm… anganku mulai menulusuri lekuk-lekuk tubuhnya. Mencoba untuk bermain dengan perasaan yang mulai tak karuan.

” Andi, heh, lagi bengong ya. Hm…. lagi mikiran siapa ? ” sapanya mengejutkan gue. ” Ah… gak pa-pa. “
” Sebentar ya, mo ganti baju dulu. Sebentar ya.”
Rina ternyata tidak keluar kamar. Posisi badannya hanya membelakangi gue, kemudian mulailah dia membukan bajunya. Oh..shit, benakku. Tampak dari belakang bentuk tubuhnya dengan kulit yang mulus. Itu tampak jelas gue lihat karena Rina hanya sekitar 3 meter dari tempat gue duduk.
” Hm… jangan ngintip lho And.”
Gue hanya memjawab itu dengan tawa kecil.

(Eh non,… siapa juga yang gak bakalan ngintip dalam kesempatan seperti ini….atau kamu malah menantang gue ya dengan kalimat kamu itu.. ha ha ha…tenang aja, suatu detik di beberapa putaran menit kedepan gue akan memanfaatkan ini.)

Dikesempatan berikutnya, Rina perlahan membuka celana panjangnya. Sementara di dada gue debaran perasaan yang dari tadi bergejolak kian membangun suatu keinginan yang aneh. Ambil kesempatan ini Andi, mungkin begitu yang terlintas dipikiran gue. Hah…!
Dan sekarang Rina hanya menggunakan bra dan shortpan warna krem juga. Kemudian melangkah ke arah tumpukan baju yang tergantung kira-kira 3 langkah dari tempat Rina membuka pakaiannya tadi. Dia meraih kaos putih panjang untuk kemudian dipakainya. Hm.. kaos putih itu menutupi tubuhnya sampai setengah dari pahanya. Shortpan yang dia kenakan dia lepaskan. Dan itu berarti kini Rina hanya menggunakan Baju kaos itu, bra dan cd. Tapi sesaat kemudian dia membuka bra yang dia pakai dari balik baju kaosnya. Ugh…sialan berani juga nih perempuan, sementara gue dengan sejuta perasaan yang kian tidak menentu memenuhi ruang sadar gue. Sialan.. sesekali makian itu terbetik di pikiran gue. Kenapa gue diam saja tanpa ada reaksi apa-apa.

(Hm… sialan kamu Rina. Apa ini suatu tantangan buat gue. Atau kamu hanya sekedar menguji gue. Atau kamu memang terang-terangan menantang gue dengan ini. Atau gue yang memang yang diem seperti kucing basah kuyup dengan nyali segenggam doang. Hah!! Banyak pertanyan, banyak ketidak pastian dalam pikiran gue. Sialan, gue memaki diri. Tak berkutik…)

Tanpa gue sadari rupanya sedari tadi sesuatu telah mengeras di balik celana jeans yang gue kenakan. Dan posisi ini sangat mengganggu. Dia dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Miring ke kanan. Dan ini terasa sakit. Sementara waktu dalam ketidakberdayaan gue dengan apa yang baru saja gue lihat. Kemana semua keinginan-keinginan yang ada di benakku. Yang jelas gue sangat terkekang dengan ketakberdayaan ini. Gue akan berontak dan akan menerima tantangan kamu Rina. Tunggu saja.

Rina dah duduk didepan gue dengan posisi yang cukup menatang. Duduk bersila dengan sedikit memegang ujung baju kaos di antara pahanya. Tapi kesannya sekedar menutup, karena tampak jelas gue liat celana dalam warna putih gading. Warna hitam yang transparan dari bayang rambut halus yang biasa tumbuh di bagian selangkangan.
Sekali lagi suatu kekalahan yang gue rasakan karena sekali lagi gue gak berkutik. Hanya bisa menelan ludah dengan gejolak birahi gue yang kian mendekat puncak. Gue gelisah, gue gak bisa lagi berpikir tenang dan bertindak wajar. Pandangan gue gak bisa lepas dari lukisan birahi yang dia buat. Sepertinya Rina tau hal ini. Karena gak sengaja gue selintas kelihat raut wajahnya dengan sedikit senyuman kemenangan di sudut bibirnya saat sesaat setelah gue melihat ke arah selangkangan Rina.

SAATNYA PUN KINI TIBA :

” Heh.. And, lagi liatin apaan kamu ?” pertanyaan itu sepertinya dia sengaja. Mungkin dari tadi dia sudah memperhatikan gue. Memang seh, mata gue gak bisa lepas dari pemandangan itu. Dan tanpa sadar sesuatu telah terjadi di balik celana yang gue gunakan. Whats up ?! Ugh… perasaan gue kian gak menentu saat gak sengaja tatapan gue beradu dengan mata Rina. Gue menemukan senyumannya dengan sesuatu keinginan yang gue dapat disana. Tapi masih saja gue gak ngerti apa itu. Karena yang gue ngerti dengan jelas sekarang ini adalah perasaan gue yang gak karuan. Nuansa birahi memenuhi lingkup kewajaranku bersikap.
” Heh… Andi. Kenapa kamu. Diem aja. Ayo dong ngobrol.”
” He.. eh.. hm.. ” gue hanya berdehem ngejawab tegurannya.

Ehhh… Rina kamu tau gak, yang ada dalan ruangan bgerpikir gue hanya ada setumpuk pikiran ngeres.. birahi yang rasanya tidak akan lama lagi akan meledak. Dan kamu akan tau itu. Sementara waktu ini, kamu bole menantang gue dengan posisi duduk kamu. Toh nanti itu semua akan gue raih. Ini belum mulai… bathinku dengan sejuta rencana. :))

” Andi, apa seh itu yang mencuat di celana kamu itu.” tegur Rina sambari mengulurkan tangannya kearah objek yang dia tegur gitu. HAAAHH ! Rupanya Rina melihat gundukan bantangan gue yang memang dari tadi sudah menegang. Ketika tangannya berhasil meraih benda itu. Dia sedikit kaget dan berujar.
” Ahh.. wow.. hahaha… punya kamu ya And. Ih.. kenapa seh jadi berdiri dan keras gitu? ” kekagetannya terkesan dibuat-buat. Ekspresi wajahnya tidak mendukung itu. Sementara gue cuman tersenyum dengan berpura-pura kaget juga dengan sedikit membumbui perasaan malu-malu. Ahh haaaa… kesempatan neh, And.. kataku dalam hati.
” Abis kamu juga yang buat jadi gini.” balas gue sengit. Memang gitu kan kejadiannya. Lagian kenapa juga ganti baju di depan gue.
Ya… sapa juga yang gak akan horny. Setelah mengucapkan itu gue berlutut dan mamalingkan badan gue ke kanan.
“Rina, sorry. Gue mo perbaiki posisi ini dulu.” selesai ngucapin itu gue mengatur posisi batangan gue ke posisi jam 12 tepat. hm.. menantang bukan. Yang jelas, adegan yang gue lakukan dalam pengawasan mata Rina yang mulai jelalatan itu. Juga ada senyuman di sudut bibirnya. Ah haaa, apa itu artinya Rina ? Beberapa saat kemudian tiba-tiba Rina bergerak, tangannya ke arah badan bagian tengah gue. hah ??
” Andi, bole aku pegang punya kamu itu, gak ?” waw.. gue terkejut
” Hah.. hm. anu… eh/.. bol… bole .” terbata-bata gue, kaget aja. Belum siap untuk diserang saja mungkin. Tapi siap atau tidak, jemari tangan Rina sudah mendarat dengan manisnya di batangan gue. Pertama dia hanya menyentuh saja, tapi kemudian dia mulai meremas dengan jari tengah telunjuk dan ibu jarinya. Dan adegan ini membuat kian tidak menentu perasaan gue. Byaarrr.. ! Seperti ada ledakan di ruang birahi gue.. Belum lagi perasaan gue berrhasil gue tenangkan. Serangan berikutnya datang lagi.
” Bole Rina liat gak benda ini, And ?” tanpa menunggu jawaban dari gue, Rina membuka zipper celana gue. Sepertinya dia sudah menguasai gue. Gue gak sempat ngeluarin kalimat. Gue hanya mengangguk. Apa arti anggukan gue, gue sendiri gak tau. Tapi yang jelas adalah gue juga menikmati nuansa ini.

Begitu lihainya jemari Rina membuka celana gue. Hingga dalam beberapa dia gak kesulitan dalam melakukan aksinya ini. Saat ini Rina sudah menggenggam dengan lembutnya batangan gue.
” Hm… And, lumayan juga punya kamu. Kalo aku tebak, panjangnya kira-kira 14 dan diameternya 4 cm.”
” Nggg.. gak salah-salah bangat. Panjangnya 14.5 dengan diamenter 4.5 cm.” kataku dengan suara yang sedikit parau. Susah sekali gue mengatur pernapasan gue yagn gak beraturan ini. Terdengar Rina mendesis, gue rasa Rina ngelami hal yang sama dengan sulitnya ngatur pernapasan… Birahi dah bicara banyak di nuansa diantar Rina dan gue. Rina masih saja membelai benda yang telah tegang sekali itu, dan tak jarang dia sedikit meremasnya. Keadaan ini harus berimbang, gue gak mo tinggal diam berlama-lama seperti ini. Dengan gerakan cepat gue melayangkan tangan gue kearah buah dada yang memang tidah ditutup dengan bra itu. Tampak bentukan putingnya yang ngeras. Dengan tangan kiri gue coba meraih benda itu. Ekspresi Rina hanya melirik kearah gue sebentar dengan senyuman. Pertanda setuju kah senyuman itu Rina ?? Ah.. apa pun itu, gue juga ingin merasakan tubuhmu. Gue meremas dengan sekali-sekali gue mainin puting buah dada Rina dari luar kaos yang dia kenakan. Rina beraksi dengan tubuhnya yang bergelinjang saat putingnya gue jepit dan gue elus dengan ibu jari dan jari telunjuk gue.

” Aku buka punya kamu ya ?” dengan pertanyaan yang hanya sekedar formalitas belaka, Rina membuka celana gue. Lihai dia. tanpa kesulitan yang berarti, Rina telah membuka celana gue. Sesaat setalah itu, batangan gue jelas kelihatan pada posisi yang sangat menantang. Juga pada kesempatan yang sama, gue masih saja mempermainkan putingnya. Desahan-desahan nikmat yang Rina rasakan terekspresi pada raut wajahnya yang keliatan sangat tegang.
Gue membukan kemeja gue, juga kemudian gue bukan juga singlet yang gue kenakan. Bearti gue hanya menggunakan CD yang hanya terpaut di paha gue karena Rina telah melorotkannya ke bawah. Aksi gue pun tidak mau ketinggalan, baju kaos Rina gue buka. Dengan sedikit bantuan Rina, kaos itu telah terlepas dari pemiliknya. Rina hanya menggunakan CD dengan warna krem. Sexy sekali. Bentuk CD itu mini bangat dengan hanya seutas tali dibagian sempingnya dan renda-renda yang sangat transparan di segitiga liar depan CDnya. Ketika hendak meraihnya CD Rina dengan maksud hendak membelai memeknya, Rina bergerak seperti menghindar. Tapi bukan juga, dia hanya kebetulan mengganti posisinya. Rina mengisyaratkan gue untuk berdiri, sementara dia berlutut. Posisi batangan gue dalam genggamannya. Kemudian dia mengarahkannya ke mulutnya. Oh.. mau oral ya. bisikku dalam hati. Rina menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat kepala batangan gue. Ah.. ada sensasi yang luar biasa terasa saat jilatan-jilatan Rina mendarat dan mempermainkannya dengan lihai. Gue seperti terbang dengan kenikmatan ini. Rina mengulum batangan gue. Sementara gue hanya bisa menikmati adegan ini, hanya rambut Rina yang gue jambak. Dan mengikuti ritme gerakan kepalanya yang maju mundur. Isapan-isapan dan elusan jilatan lidah Rina semakin meningkatkan level birahi yang ada dalam nuansa adegan sex ini. Sungguh suatu napsu yang begitu haus, Rina terus mengisap dan menjilat batangan gue. Hingga sampai pada suatu keadaan yang hendak menggantung kenikmatan yang gue rasakan. Rina menghetikan kegiatannya dan beranjak berdiri. Rina meraih tangan kiri gue dan menariknya ke arah ranjang. Dalam kesempatan itu, sebelum mendekati ranjang, gue memeluk rina. Gue mengangkatnya ke dalam gendongan gue. Sepertinya posisi yang gue inginkan dia tau. Rina membuka kakinya saat gue mengangkatnya dan melingkarkannya di pinggang gue. Kini Rina dalam gendongan gue, dan detik kemudian gue dan Rina dalam tenggelam dalam ciuman yang tentu saja membara. Gue menidurkan Rina yang masih melingkarkan kakinya di pinggang gue. Tanpa merubah posisi, kami telah berbaring di ranjang. Rina di bawah. Tangan kiri gue arahkan ke selangannya. Mendarat tepat pada sebentuk dengan belahan yang sudah becek basah oleh lendir yang keluar dari memek Rina. Langsung saja jemari gue mempermainkan clitorisnya. Rina menggelinjang. Sementara ciuman terus saja berpagut diselingi dengan erangan-erangan nikmat dari mulut Rina. Jemari tangan yang lain gue tempatkan pada tumpukan buah dada Rina. Gue remas buah dadanya. Sekali-sekali putingnya gue mainin lagi. Kenikatan sepertinya telah memenuhi seluruh ruangan dalam diri Rina, gelinjangannya kian menjadi. Tapi belum saat itu tiba. Gue berinisiatif untuk merubah posisi. Gue ingin posisi 69. Batangan gue dalam genggaman Rina, kemudian mengantarnya ke dekat mulutnya. Jilatan demi jilatan dia lakukan. Sementara diwaktu yang sama, gue membenamkan kepala, lidah gue dah gue masukin ke dalam vagina becek Rina. Gigitan kecil ke clitoris Rina membuatnya meningkatkan frekuensi isapan maju mundur batangan gue. Sensasi membawa Rina dengan napsu yang mambara menjilat dan mengulum dalam posisi 69 ini. Suatu ketika ketika mulut gue benar- benar menenggelamkan lidah gue ke dalam vaginanya. Sementara clitoris gue gigit sambari gue isap vaginanya.
” Wow .. sensasi skali And.. terus sayang.. terus,.. Aku mau keluar neh. ” geliat Rina menjadi lebih.
” Hm.. ah.. ugh,… ” hanya desahan yang gue berikan sebagai jawaban. Napsu gue dak makain menjadi.
” Andi.. gue keluar.. sayang.. ah.. “
Erangan Rina terakhir ini mengekspresikan kenikmatan yang tiada tara. Kaki Rina melingkar menbekap kepala gue. Gue agak sulit menggerakkan kepala gue. Gue berusaha menggerakkan tapi sama saja, tetap gak bisa. Tubuh Rina seperti mengejang kaku. Ini berlangsung kira-kira 2 menit. Sebenarnya gue tersiksa dengan posisi ini, tapi apa daya. Kaki Rina terlalu kejang dan gue membekap kepala gue.

ADA KEJUTAN LAIN TERNYATA :

Tok..tok…tok… Ada ketukan pintu. Itu sepertinya berasal dari pintu kamar ini, kamar Rina. Rina bangkit dari ranjang dengan menggerutu.
” Ih… siapa lagi seh.” kejengkelan Rina gak bisa dia sembunyikan.
” Siapa ? ” suara Rina agak meninggi.
” Aku Rin, Lia. Bukan dong.” oo.. jadi tamu itu Lia. Siapa dia, ah.. mungkin penghuni kamar sebelah.
” Sebentar.” Rina dah berada dibelakang pintu, tapi masih belum mengenakan apa-apa. Kemudian Rina meraih kain berwarna kelam dengan motif reptil dan mengenakan sebagai penutup tubuhnya. Tapi terlihat Rina hanya mengenakan sekenanya. Pintu di buka dan Lia menerobos masuk. Gue terkejut, langsung gue raih selimut dan menutupi tubuh gue sekenanya juga. Terlanjur terkejut.
” Eh.. Lia,…!!! ” suara Rina meninggi dengan nada kesal.
” Rina, sorry. Gue tau kok dan kamu gak perlu merasa terganggu. Gue cuman mo ngembalikan novel ini.” seraya lia menyerangkan 2 buah novel bersampul warna biru dan perak. Gue semakin terkejut ketika dengan seksama melihat raut wajah Lia.
” Hah… Lia ?? ” kagetku.
” Hei .. Andi. Wah .. ketauan kamu.. mainnya sampe kesini rupanya. ” Lia pun menampakkan keterkejutan yang sama, tapi kemudian dia tersenyum.

(Perlu pembaca tau, Lia adalah teman sejawat gue. Gue ma dia satu kantor. Cuman saja beda bagian. Dia dibagian keuangan. Kenal ma Lia mang cukup lama juga seh.. sejak dia bergabung dengan kantor tempat gue kerja kira-kira 1 1/2 taon lalu. tapi gue gak begitu dekat dengan dia, hanya kenal biasa.)

” Oh iya Rina, Andi adalah teman sekantor aku.” katanya lanjut.
” Ohh.. gitu. ” jawab Rina singkat sambil berjalan ke gue dan duduk di dekat gue. Lia duduk di bangku dekat ranjagn tempat gue dengan Rina bergulat.
Rina menggeser posisi duduknya. Rina ikutan tengkurap disamping gue. Menyadari posisi ini, gue dengan sengaja merangkulkan tangan kanan gue ke punggung Rina. Gue belai. Hal ini gue sengaja lakukan untuk memancing reaksi Lia. Tanpa menyadari trik ini, Rina menikmati belaian tangan gue. Semakin meluas area belaian gue. Hinggan setelah gue mendekatkan tangan gue ke lengan kanan Rina kemudian gue tarik hingga badan Rina berbalik tengadah. Kain yang dia gunakan tersimbak dan tonjolan buah dada yang ranum terbuka dalam posisi mengisyaratkan suatu tantang untuk dijamah. Dari sudut mata gue perhatikan Lia mengawasi dengan detail adegan awal ini. Napasnya seperti dia atur, tetapi terlihat susah. Hanya gelisah yang justru terbias.

(Lia, kamu tunggu saja saatnya juga akan tiba :) )

Rina hanya pasrah dengan keadaan ini, gak ada rasa segan yang dia ekspresikan sementara teman se-kost-nya ada dalam kamar. Segera saja kepala gue Rina tarik ke dadanya. Ok, gue tau apa yang kamu mau, Rina. Hm… puting coklat kemerahan itu seperti telah siap dengan mendaratnya lidah gue. Tangan Rina masih memegang kepala gue. Dan gue rasakan gerakan tangan Rina seperti ingin mengambil alih gerakan. Hm.. akhirnya gue turut dalam gerakan tangan Rina. Kedua tumpukan itu secara bergantian gue jilat dan gue remas.

(Lia hanya duduk terpaku. TERPAKU. Ah haa, kata yang tepat. Dan itu berarti Lia dah ada dalam jebakan gue. Memang ini yang gue inginkan. Dan sebentar lagi Lia akan itu dalam adegan ini. Bukankah sutradara episode ini ada gue ? Nah, sabar saja Lia.

) Gak ada lagi rasa sungkan saat ini. Gue bangkit berdiri. Rina tersentak, terkejut. Saat berdirin ini, batangan gue bebas terpajang dalam ruang lingkup tatapan Lia. Terbelalak. Dan sekilas gue liat Lia menelan ludah.
” Andi ? Apa apa ? “
” Tenang saja. Mau sesuatu yang lain gak ? ” ada ide yang tiba- tiba muncul dalam benak gue. Sementara Lia kami biarkan saja duduk di kursi itu. Jadi penonton atau jadi juri mungkin. Gue gak mengunggu respon dari Rina. Pergelangan kaki Rina gue pegang. kemudian gue angkat.
” Heh.. kamu mau ngapain ?” Rina belum mengerti apa yang akan gue lakukan.
” Ikuti saja perintah gue.OK ?”
Dengan instruksi yang gue berikan ke Rina, kini Rina telah dalam posisi yang gue inginkan. Pundak Rina gue pegang sebagai tumpuan badannya. Posisi 69 tapi kali ini berdiri.

(Pembaca bisa bayangkan ? OK.. gue coba terangin. Gini, Rina dalam posisi 69 ini gue angkat (gendong dalam posisi kepala di bawah). Tangan kanan gue kenahan bahu Rina sementara tangan kiri gue merangkul pinggulnya. Dalam posisi gini gue merasa keberatan dengan berat badan Rina yang sebenarnya lumayan berat. Rina merangkul pinggang gue juga sebagai tempat menahan berat badannya sendiri. Gimana pembaca bisa membayangkan posisi ini.)

Begitu dah dalam posisi yang tepat, Rina telah berhasil mengulum batangan gue. Kepala Rina bergoyang maju dan mundur sambil mengisap- isap. Wow .. sensasional. ** Iklan kali..:)** Begitu pun gue, memek yang memang telah basah itu gue langsung terkam. Ceplokss.. clek..clek..clek.. bunyi memek Rina karena jilatan gue. Hm.. ah..oh. Rina terus mendesis desah.

(Lia… sekali lagi Lia. Hm.. gimana perasaan kamu sekarang ? Tidakkah pemandangan ini bergairah ? Lia semakin tidak bergeming dari tempat duduknya. Matanya tak berkedip sedikitpun mengawasi jalannya adegan tanpa skrip ini. Entah sadar atau tidak, tangan Lia berada pada selangkangannya. Dan tangan yang satunya memegang dada kirinya. Meremas. Gotcha, kamu sudah dalam perangkap birahi.)

Sesaat kemudian, posisi 69 berdiri ini berubah. Gue capek menahan beban berat badan Rina. Rina mengisyaratkan kan berbaring.
” Lia, tolong dong tuh gelas di samping kamu bawakan kesini.” tanpa ba bu atau bi.. Lia mengantarkan gelas yang Rina maksud kemudian menyodorkannya. Tapi sebelum Rina menggapai gelas itu, cepat gue ulurkan tangan dan menerimanya. Tapi dengan sengaja gue menggenggam tangan Lia. Gak ada sedikitpun penolakan. Lia hanya memandang ke Rina seperti mengisyaratkan suatu permohonan, Rina.. aku mau ikut dalam adegan ini. Rina kemudian menerima gelas itu dari tangan gue. Tapi tangan Lia tetap gue pegang.
” Rina, keberatan ?”
” He eh.. gak pa-pa. ” maksud gue dapat Rina baca.
Lia gue tarik mendekat ke gue. Sementara Rina masih dalam posisi berbaring sambil membalai batangan gue yang diselingi dengan kocokan- kocokan manis. Lia sepertinya telah ngerti apa yang akan gue sampaikan.. hingga belum sempat gue berucap Lia telah meluciti pakaiannya mulai dari baju kaos biru ketat. Cresss.. baju terbuka dan tampak bra hitam yang melintang membungkus. Gak begitu gue perhatian dengan jelas, tapi bisa gue deskripsikan, kira-kira Lia menggunakan bra nomer 36, gue gak tau cup A atau B. Kemudian lucutan yang berikutnya adalah rok biru tua selutut yang begitu pass dengan pinggang dan pinggul hingga ke paha Lia. CD warna hitam sepasang dengan bra. Bentuknya pun cute, bagian depannya berjaring-jaring jarang dan hanya bagian itunya saja yang tertutup dengan lapisan yang berbentuk kain tipis.
Rina tersenyum, kemudian batangan gue yang dia genggam arahkan ke vaginanya. Tanpa ada kesulitan, batangan gue ternyata telah tenggalam setengahnya setelah gue tekan badan gue sedikit ke bawah. Posisi gue berlutut sementara Rina gue angkat kedua kakinya dan bertumpuh di pundak gue. Dan Lia gue minta untuk berdiri mengangkan di atas Rina yang terbaring. Dengan posisi ini, memek Lia (yang sebelumnya CD-nya dah gue buka) tepat dihadapan gue. Sementara tangan gue meremas buah dada Lia dan lidah gue jilatin memeknya, gue sambil menggoyang pinggul gue untuk menggenjot batangan gue ke dalam memek Rina. Wow !! Rina memegang pergelangan kaki Lia untuk tumpuan bertahan dari goncangan dari genjotan gue. Rina dan Lia mendesah, rasanya ini sangat sensasi. Gue juga ikutan dengan desisan kecil, ekspresi kenikmatan yang gak bisa gue sembunyikan. Sementara saja Rina gue terus genjot, Lia gue suruh ganti posisi. Nungging di depan gue. Pantatnya dianggak tinggi tepat di depan mulut gue. Kaki Lia terbuka lebar, memeknya pun terbuka menantang diepan gue. Rina gue minta untuk meremas buah dada Lia. Rina masih dalam posisi yang tadi. Sambil menjilat atau memasukkan lidah gue ke dalam memek Lia, Rina terus gue genjot. Rina ngerasa mo orgasme, dia semakian liar. Pinggul gue dia cengkaram erat kemudian mempercepat gerakan tangannya hinggan pinggul gue ikut terguncang. Ini membuat genjotan gue makin kencang ke memek Rina. Napas gue terburu, dan jilatan-jilatan gue makin gak karuan ke memek Lia. Ternyata Lia ngerasa ini justru makin enak. Makin sensasi. Lia pun akan sampe ke puncak, dia juga mo orgasme. Itu Lia ucapkan berkali-kali…” Aku mau keluar neh Andi. Aku mau keluar.” Keadaan makain gak terkendali. Makin liar. Dan peluh gue kian mengeucur ke dahi dan pelipis gue. Begitupun dengan badan gue, basah keringat. Posisi ini tetap gue pertahankan. Rina terus mengguncang-guncangkan tubuhnya dan menguncang-guncang pinggul gue dengan tangannya. Sementara dalam waktu yang sama Lia menggoyang- goyangkan juga pantatnya naik turun. Gesekan memek Lia ke mulut gue, ke lidah gue kian berasa. Hingga dalam waktu yang hampir bersamaan. Rina yang pertama berteriak tertahan menegang menahan kenikmatan puncak orgasme. Kemudian Lia menyusul dengan menghentikan goyangan pantatnya tapi berbalik menekan ke arah wajah gue. Memek Lia dengan sempurna menyumbat wajah gue. Lidah gur tertancap cukup mamtap di memek Lia. Gila !!!! Gue juga ngerasain hal yang sama. Dengan semakin menggilanya genjotan gue, dan gue gigit memek Lia. Ini membuat kedua perempuan yang gue hadapi berteriak keras. Tapi teriakan mereka teredan dengan sumbatan tangan dan bantal yang segera gue tutupin ke mulut perempuan-perempuan ini. Gilaaaaaa….!!!! Sensasinya sampe ke ubun-ubun gue…. Sperma gue semprotkan ke dalam memek Rina, sementara gue masih terus menggigit memek Lia dengan napsu yang tidak bisa gue gambarin gimana gilanya. Rina mencengkram pinggang gue dan menekan ke arahnya. Batangan gue tertancap penuh ke dalam memek Rina. Dan saat yang bersamaan itu juga, gue pemeluk paha Lia dan menariknya. Karena gue menjilat memek Lia dari belakang, maka seluruh wajah gue dah tenggelam dalam belakan selangkangan Lia. Terasa disekitar bibir gue dah blepotan dengan cairan-cairan yang keluar dari memek Lia. Crottt…crrootttt…crroott… creootttt.. croottt.. tembakan-tembakan sperma muncrat ke dalam memek Rina. Gue berteriak….. aaaaaarrrrgggggg…. hmmrrrr.ggggg…. Rasanya semua sendi gue lepas. Akhirnya gue rebah terkapar diatas tubuh Rina yang dengan segera menyambutnya dengan pelukan dan ciuman yang bertubi- tubi ke bibir gue. Lia yang tadi dalam posisi nungging juga rebah ke samping Rina. Tangan gue tepat mendarat di dadanya. Tak ayal lagi, tangan gue memelintir manis puting Lia yang sangat mengeras itu. Gue sangat puas. Tapi gue belum sepenuhnya nyerah, gue masih ingin merasakan kenikmatan lain dengan memek Lia yang belum ngerasain gimana dasyatnya batangan gue. Tapi badan ini rasanya seperti tertimpa beban berton-ton. Gue masih berusaha untuk mengumpulkan semua tenaga yagn masih ada. Untung semangat ngewek gue masih membara.
” Ahh.. Andi, kamu hebat. Aku puas sekali. Puas.” kalimat itu Rina ucapkan sambil terus menciumi gue. Batangan gue belum gue cabut dari dalam memek Rina. Gue hanya tersenyum mendengar kalimat Rina dengan nada suara yang lemes itu.
” Hm.. Lia, gimana dengan kamu.? ” tanya gue sembari memngusap pipi kiri Lia. Dia sedikit tersenyum kemudian dia bangkit dari rebahannya. Duduk bersila menghadap ke gue. Wow, jelas terlihat memek Lia yang menganga. Hm.. ada tantangan lagi neh, bisikku. Lia sekali lagi tersenyum.
Selang kira-kira 5 menit kemudian setelah gue rasa semua tenaga gue dah terkumpul, gue berdiri dan ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar Rina. Kamar mandi itu ada di dekat kursi tempat Lia tadi duduk. Setelah gue di dalam kamar yang segera gue bersihkan batangan gue yang sudah ngecil itu dengan sabun. Baru saja gue mau berdiri lagi, Lia ternyata dah di dalam kamar mandi. Sebelum langkah gue berada di pintu kamar mandi itu, tangan gue di cengkram erat.
” Andi, gue belum kamu puaskan. Gue minta giliran setelah ini.”
” hm.. ” gue hanya mendehem.. dan tersenyum. Memang itu yang akan kamu rasakan Lia, kataku dalam hati. Setelah Lia, selesai bersih-bersih. Lia berdiri dan kemudian mendaratkan ciuman ke bibir gue. Gue dan Lia masih telanjang. Gak nunggu lebih lama lagi gue langsung meremas dada Lia. Wow, kenyal. Tapi ini, tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, Lia membungkuk. Wajahnya ia arahkan ke batangan gue. Gue tau maksud dia, gue tatap berdiri. Dan Lia telah berhasil memasukkan bantangan gue yang masih lemes kecil itu kedalam mulutnya. Dalam beberapa pergeseran detik setelah itu, batangan gue bereaksi hebat. Hah.. pintar juga neh perempuan mbuat batangan gue berdiri lagi. Auwww.. masih saja Lia dengan semangatnya yang terbungkus birahi menjilati dan mengisap-isap bantang gue. Terlihat senyuman di wajah Lia, sesaat kemudian setelah dia berdiri. Kemudian dia membelakangi gue dan membungkukkan badannya kedepan. Tangannya bertumpuh pada pinggir bak air di depannya. Oh.. kamu mau doggy style ya ?, ok gue ngerti. Tanpa ada percakapan apa-apa, batangan gue arahin ke dalam memek Lia. Amblas, tanpa ada kesulitan. Memek itu dah licin lagi oleh air dan cairan vagina Lia yang membuat perjalanan batangan gue menuju sorga ‘dosa’ ini tanpa hambatan. Kepala Lia terangkat dan dengan erangan yang membuat kelaki-lakian gue makin menggila. Gue berada lagi pada level tertinggi napsu. Ritme pada intro permainan. Seperti layaknya lagu yang baik, bit-bit awal dengan nada manis mengalun perlahan dengan irama yang tetap. Gue pun tetap mempertahankan ritme ini. Pelan tapi itu pasti. Gesekan demi gesekan gue arahkan. Lia pun mengerti arah kemana akan gue bawa permainan ini. Dengan desis erangan napsu dia perdengarkan. Gue tambah kecepatan genjotan gue, irama erangan Lia semakin jadi. Rupanya hal ini membuat Rina terusik, karena dia dah berada di pintu kamar mandi masih dengan keadaan telanjang bulat. Gue gak memperdulikan kehadiran Rina, gue masih asyik dengan goyangan gue. Dan gitu pun dengan Lia yang hanya memasang posisi ngangkang dan badang di bungkukan ini. Rina mendekat, dia segera membasahi membersihkan memeknya. Dia kelihatan terburu-buru. Sementara keasyikan gue dengan Lia masih berlangsung. Lia berbalik menghadap ke gue, dan kemudian dia mundur ke pinggiran bak dan duduk diatasnya. Lia membukan lebar pahanya. Itu isyarat gue untuk mendekat dan kembali gue masukkan batangan gue ke dalam memek Lia. Rina yang dah selesai membersihkan memeknya, tiba-tiba naik ke atas bak. Berdiri juga dengan posisi mengangkan diatas Lia yang duduk di bawahnya. itu berarti selangkangan Rina. Rina menarik kapala gue mendekat. Tanpa suatu kalimat perintah, gue dah menjulurkan lidah gue dan memainkan clitoris Rina dan manisnya. Goyangan maju dan mundur ke selangkangan Lia masih dan akan terus gue lakukan hingga saat itu datang nanti. Tapi ternyata style ini tidak berlangsung lama. Karena gue menghetikan kegiatan ini.
” Gue ada ide bagus. Neh.. ikut gue.” gue keluar kamar mandi dan ke ranjang. Gue rebahkan diri tengadah dengan membuka lebar-lebar kaki gue. Batangan gue berdiri tagak dengan posisi ini. Lia gue minta ke atas tubuh gue. Lia yang diatas. Posisi kaki yang gue kangkang lebat tadi gue angkat dengan begitu semakin terasa tekanan gesekan memek Lia di batangan gue. Masih berlangsung adegan ini, Rina gue suruh mengangkang dengan tumpuan pada lututnya. Selangkangan Rina tepat diatas wajah gue. Rina menekan pinggulnya ke bawah. Memeknya menganga 5 cm dari mulut gue. Gue jilat. Wow.. … sementara Lia terus menggoyang naik turunkan pinggulnya, gue juga menjilat clitoris Rina.

(Sungguh pembaca, gue gak pernah ngebayangin situasi seperti ini. Yang ada dalam benak gue saat menuju kost Rina, paling yang gue dapat nanti hanya softly sex .. tapi ini pembaca, sudah hardcore .. wow !! Gue sendiri gak percaya dengan ini semua, tapi yang jelas ini bukan mimpi. Ini real… real sex.. Gue tau, mungkin ada diantara pembaca yang akan bilang, hah.. ini cerita doang. Ini dibuat-buat. .. Tapi apa pun itu… yang jelas itu semua dah gue rasakan. Dan itu baru terjadi minggu yang lalu (saat gue dah selesai tulis cerita ini).. Tepatnya 29 September 1998, malam pukul 23:15 wib adegan sex itu kelar.)

Hm… selanjutnya… pembaca bisa bayangkan gimana klimaks adegan ini. Tapi ada yang membuat gue sangat terkejut. Tebak apa yang membuat gue sangat terkejut ?????!!!! Ternyata pintu kamar Rina tidak tertutup rapat. Masih ada celah sebar 5 cm, sangat cukup sebelah mata untuk dipake ngeintip. Yang membuat gue dangat terkejut, ternyata mata itu bukan sebelah… tapi ada 2 mata lagi yang gue liat sekilas. Berarti ada setidaknya tiga orang yang mengintip dari balik pintuk itu. Dan setau gue, penghuni kost ini semuanya cewek. Ada enam kamar, tiga di sebelah dan tiga kamar lagi berjajar dengan kamar Rina. Kebetulan kamar Rina paling ujung. Hah.. sedah berapa lama mereka itu ngintip gue gak tau. Sebab konsentrasi gue hanya ke kedua perempuan yang dah gue puasin ini. Pembaca, malam itu gue nginap di kamar Rina. Gue gak bisa tidur dengan nyenyak, karena pikiran gue terjerembab pada banyak pertanyaan, yang diantaranya….. adalah … kenapa gue ngerasa semua ini hanya jebakan… jebakan dimana gue adalah korban dari suatu skenario sex yang entah nanti jika gue ke sini lagi, ke kost Rina, akan kah mereka dengan seperti berlagak gak sengaja masuk ke kamar Rina saat gue lagi asyik beradu kenikmatan dengan Rina. ‘???????!!!!!?????????’ Jebakankah ini, setidaknya gue dah merasakan kenikmatan dengan mereka. Apa pu itu namanya gue tetap akan ke kost Rina sepanjang perempuan ini tetap meminta gue datang. Dan itu betul, karena setelah pagi kemudian, sesaat sebelum gue meninggalkan kamar Rina. Rina sempat meminta gue untuk datang lagi. Tapi katanya kalo mau datang gue kudu telpon dulu. Hm…. sekarang gue justru berpikir… datang lagi gak ya..??

Selasa, 17 Juni 2008

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.