Minggu, 22 Juni 2008

RINA,… LIA, …. RASANYA INI JEBAKAN

RINA,… LIA, …. RASANYA INI JEBAKAN

Akhirnya aku sampe ke halte. Gak begitu lama bus PPD jurusan Pasar Baru - T. Priok dah datang. Penumpang gak begitu banyak. Masih ada bangku kosong, kebetulan buat gue. Disamping bangku yang gue duduki dah diisi seorang perempuan. Kalo gue taksir, kira-kira usia perempuan itu sekitar 28-30 taon. Body bagus dengan betis putih mulus tanpa dibalut stoking dan bulu-bulu halusnya terliat jelas. Potongan rambut biasa, berombak. Tentu tanpa poni. Sekilas terlihat dia tersenyum saat gue menyapa dia.
” Hai, permisi.” sambil memposisikan duduk gue sambari membalas secuil senyuman dia. Hmmm…ada bau harum yang menyengat ke hidung gue. Ugh..baunya khas…enak. Dan sekali lagi gue kelontarkan senyuman ke dia. Hah…lumayan juga neh perempuan, bisikku kagum dalam hati. Sekilas terbentuk indah payudara, mungkin ukuran 36. Paling tidak 34, entahlah. Busananya pun lumayan sexy dengan leher agak rendah. Wow..leher dan dadanya pun sangat menantang, mulus.

Dan bus pun dah berjalan pelan tersendak. Biasa Jakarta dengan segala macam ketidaksabaran para sopir bus kota. Sreeettttt…derik bunyi ban. Tanpa sengaja karena refleks gue, maksud gue mao memegan plang besi sandaran kursi depan. Tapi karena tengan perempuan itu telah dari tadi memegang plang kursi itu maka tanpa bisa dihindari tangan gue gak sengaja memegang tangannya.
” Aduh, maaf. Tidak sengaja.” pintaku dengan sedikit embel senyum.
” Oh..gak pa-pa.” jawabnya dengan membalas senyuman juga. Yap, dengan berbasa-basi gue sedikit akrab ke dia. Maksud gue jelas, mau kenalan. Iseng aja, siapa tau bisa. Hm..dia berespon. Terjadilah perkelan dan ngobrol ringan dengan dia. Namanya Rina, gawe di sebuah perusahaan asing, Oil Company, berkantor di daerah Sudirman. Rina kost di daerah Priok. Kebetulan, katanya, dia abis main di tempat temannya di Pasar Baru. Ngobrol kami sekitar 35 menit karena gue dah harus turun di Plumpang. Tapi sebelum itu, Rina dah memberikan kartu namanya sambil bilang,
“Ndi…Aku tunggu tlp kamu ya. Bye.” harapnya. Hah haa..ada nada gembira dalam hati gue. Bagus…siapa tau aja.
” OK.” jawabku singkat.

HINGGA SUATU KETIKA, EMPAT HARI KEMUDIAN :

Ahaaa, aku ingat sekarang. Hm..ini kan kartu nama cewek yagn kenalan di bus kota beberapa hari yang lalu. Begitu pekik girang gue dalam hati. Mo telpon ah…kali aja dia masih ingat..dan bisa kenal lebih jauh…heheh.. siapa tau aja. Gue dial nomer yang tertera di kartu itu.
” Halo. Selamat pagi. Bisa bicara dengan Rina.”
” Ya. Semalat pagi. Saya sendiri Rina. Ada yang bisa saya bantu ?”
” Hi, Rina, gue neh Andi. Masih ingat ? “
” Oh, Andi apa kabar kamu. Hm, napa baru telpon sekarang.?
” Aduh, iya neh sibuk. Tapi sekarang dah telpon kan.”

Begitulah awal percakapan di telpon itu. Hingga akhirnya sepakat untuk temu di Counter Dunkin Donat di Plaza Atrium Senen selepas jam kerja sore itu.
Sesuai janji sore itu, hm.. lebih tepat kalo malam itu, gue temu dengan Rina di tempat janji. Wah, kelihatannya saat itu Rina ada masalah, dan itu dia tuturkan panjang lebar. Masalah di kantornya. Katanya dia punya teman sekantor yang sering kurang ajar ke dia, lebih tepatnya kalo dibilang itu pelecehan seksual, tuturnya. Gue menanggapinya dengan serius dan memberikan atensi yang baik dengan ceritanya itu.

Singkat cerita, gue ngaterin dia ke kost-nya. Hm..malam kira-kira dah jam 20:26 wita (?). Belum begitu malam seh. Gue dipersilahkan masuk ke kamarnya karena kost-nya tidak tersedia ruang tamu. Minum kopi sebentar katanya lagi. Ahh… okelah. Gue menyambut gembira tawaran ini, tapi gak gue ekspresikan terlalu. Takut nanti ketahuan kalo gue emang sebenarnya sangat mengharapkan ini. Ahh haaaa… :) Sementara gue duduk di lantai dengan alas karpet merah hati bermotif bunga warna biru dan kuning, Rina melepaskan jas krem-nya.

” Santai aja And. Kamu buat sendiri aja minuman yang kamu mau.” gue melihat-lihat sekeliling kamarnya. Lumayan apik juga tatanannya. Warna tembok biru langit (biru mudah sekali). Warna yang tepat buat suasana romantis, pikirku.

Rina duduk di depan gue. Kebetulan dia pake celana panjang warna krem juga, sesuai dengan kulitnya yang putih. Dia mengenakan baju kaos ketat warna hitam. Wow..dan tampak jelas bentukan gunung kembar di pelataran dadanya. Hm… perempuan ini ternyata mempunyai bentuk tubuh yang bagus. Buah dada yang begitu menantang dengan bra putih yang terlihat samar. Hm… anganku mulai menulusuri lekuk-lekuk tubuhnya. Mencoba untuk bermain dengan perasaan yang mulai tak karuan.

” Andi, heh, lagi bengong ya. Hm…. lagi mikiran siapa ? ” sapanya mengejutkan gue. ” Ah… gak pa-pa. “
” Sebentar ya, mo ganti baju dulu. Sebentar ya.”
Rina ternyata tidak keluar kamar. Posisi badannya hanya membelakangi gue, kemudian mulailah dia membukan bajunya. Oh..shit, benakku. Tampak dari belakang bentuk tubuhnya dengan kulit yang mulus. Itu tampak jelas gue lihat karena Rina hanya sekitar 3 meter dari tempat gue duduk.
” Hm… jangan ngintip lho And.”
Gue hanya memjawab itu dengan tawa kecil.

(Eh non,… siapa juga yang gak bakalan ngintip dalam kesempatan seperti ini….atau kamu malah menantang gue ya dengan kalimat kamu itu.. ha ha ha…tenang aja, suatu detik di beberapa putaran menit kedepan gue akan memanfaatkan ini.)

Dikesempatan berikutnya, Rina perlahan membuka celana panjangnya. Sementara di dada gue debaran perasaan yang dari tadi bergejolak kian membangun suatu keinginan yang aneh. Ambil kesempatan ini Andi, mungkin begitu yang terlintas dipikiran gue. Hah…!
Dan sekarang Rina hanya menggunakan bra dan shortpan warna krem juga. Kemudian melangkah ke arah tumpukan baju yang tergantung kira-kira 3 langkah dari tempat Rina membuka pakaiannya tadi. Dia meraih kaos putih panjang untuk kemudian dipakainya. Hm.. kaos putih itu menutupi tubuhnya sampai setengah dari pahanya. Shortpan yang dia kenakan dia lepaskan. Dan itu berarti kini Rina hanya menggunakan Baju kaos itu, bra dan cd. Tapi sesaat kemudian dia membuka bra yang dia pakai dari balik baju kaosnya. Ugh…sialan berani juga nih perempuan, sementara gue dengan sejuta perasaan yang kian tidak menentu memenuhi ruang sadar gue. Sialan.. sesekali makian itu terbetik di pikiran gue. Kenapa gue diam saja tanpa ada reaksi apa-apa.

(Hm… sialan kamu Rina. Apa ini suatu tantangan buat gue. Atau kamu hanya sekedar menguji gue. Atau kamu memang terang-terangan menantang gue dengan ini. Atau gue yang memang yang diem seperti kucing basah kuyup dengan nyali segenggam doang. Hah!! Banyak pertanyan, banyak ketidak pastian dalam pikiran gue. Sialan, gue memaki diri. Tak berkutik…)

Tanpa gue sadari rupanya sedari tadi sesuatu telah mengeras di balik celana jeans yang gue kenakan. Dan posisi ini sangat mengganggu. Dia dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Miring ke kanan. Dan ini terasa sakit. Sementara waktu dalam ketidakberdayaan gue dengan apa yang baru saja gue lihat. Kemana semua keinginan-keinginan yang ada di benakku. Yang jelas gue sangat terkekang dengan ketakberdayaan ini. Gue akan berontak dan akan menerima tantangan kamu Rina. Tunggu saja.

Rina dah duduk didepan gue dengan posisi yang cukup menatang. Duduk bersila dengan sedikit memegang ujung baju kaos di antara pahanya. Tapi kesannya sekedar menutup, karena tampak jelas gue liat celana dalam warna putih gading. Warna hitam yang transparan dari bayang rambut halus yang biasa tumbuh di bagian selangkangan.
Sekali lagi suatu kekalahan yang gue rasakan karena sekali lagi gue gak berkutik. Hanya bisa menelan ludah dengan gejolak birahi gue yang kian mendekat puncak. Gue gelisah, gue gak bisa lagi berpikir tenang dan bertindak wajar. Pandangan gue gak bisa lepas dari lukisan birahi yang dia buat. Sepertinya Rina tau hal ini. Karena gak sengaja gue selintas kelihat raut wajahnya dengan sedikit senyuman kemenangan di sudut bibirnya saat sesaat setelah gue melihat ke arah selangkangan Rina.

SAATNYA PUN KINI TIBA :

” Heh.. And, lagi liatin apaan kamu ?” pertanyaan itu sepertinya dia sengaja. Mungkin dari tadi dia sudah memperhatikan gue. Memang seh, mata gue gak bisa lepas dari pemandangan itu. Dan tanpa sadar sesuatu telah terjadi di balik celana yang gue gunakan. Whats up ?! Ugh… perasaan gue kian gak menentu saat gak sengaja tatapan gue beradu dengan mata Rina. Gue menemukan senyumannya dengan sesuatu keinginan yang gue dapat disana. Tapi masih saja gue gak ngerti apa itu. Karena yang gue ngerti dengan jelas sekarang ini adalah perasaan gue yang gak karuan. Nuansa birahi memenuhi lingkup kewajaranku bersikap.
” Heh… Andi. Kenapa kamu. Diem aja. Ayo dong ngobrol.”
” He.. eh.. hm.. ” gue hanya berdehem ngejawab tegurannya.

Ehhh… Rina kamu tau gak, yang ada dalan ruangan bgerpikir gue hanya ada setumpuk pikiran ngeres.. birahi yang rasanya tidak akan lama lagi akan meledak. Dan kamu akan tau itu. Sementara waktu ini, kamu bole menantang gue dengan posisi duduk kamu. Toh nanti itu semua akan gue raih. Ini belum mulai… bathinku dengan sejuta rencana. :))

” Andi, apa seh itu yang mencuat di celana kamu itu.” tegur Rina sambari mengulurkan tangannya kearah objek yang dia tegur gitu. HAAAHH ! Rupanya Rina melihat gundukan bantangan gue yang memang dari tadi sudah menegang. Ketika tangannya berhasil meraih benda itu. Dia sedikit kaget dan berujar.
” Ahh.. wow.. hahaha… punya kamu ya And. Ih.. kenapa seh jadi berdiri dan keras gitu? ” kekagetannya terkesan dibuat-buat. Ekspresi wajahnya tidak mendukung itu. Sementara gue cuman tersenyum dengan berpura-pura kaget juga dengan sedikit membumbui perasaan malu-malu. Ahh haaaa… kesempatan neh, And.. kataku dalam hati.
” Abis kamu juga yang buat jadi gini.” balas gue sengit. Memang gitu kan kejadiannya. Lagian kenapa juga ganti baju di depan gue.
Ya… sapa juga yang gak akan horny. Setelah mengucapkan itu gue berlutut dan mamalingkan badan gue ke kanan.
“Rina, sorry. Gue mo perbaiki posisi ini dulu.” selesai ngucapin itu gue mengatur posisi batangan gue ke posisi jam 12 tepat. hm.. menantang bukan. Yang jelas, adegan yang gue lakukan dalam pengawasan mata Rina yang mulai jelalatan itu. Juga ada senyuman di sudut bibirnya. Ah haaa, apa itu artinya Rina ? Beberapa saat kemudian tiba-tiba Rina bergerak, tangannya ke arah badan bagian tengah gue. hah ??
” Andi, bole aku pegang punya kamu itu, gak ?” waw.. gue terkejut
” Hah.. hm. anu… eh/.. bol… bole .” terbata-bata gue, kaget aja. Belum siap untuk diserang saja mungkin. Tapi siap atau tidak, jemari tangan Rina sudah mendarat dengan manisnya di batangan gue. Pertama dia hanya menyentuh saja, tapi kemudian dia mulai meremas dengan jari tengah telunjuk dan ibu jarinya. Dan adegan ini membuat kian tidak menentu perasaan gue. Byaarrr.. ! Seperti ada ledakan di ruang birahi gue.. Belum lagi perasaan gue berrhasil gue tenangkan. Serangan berikutnya datang lagi.
” Bole Rina liat gak benda ini, And ?” tanpa menunggu jawaban dari gue, Rina membuka zipper celana gue. Sepertinya dia sudah menguasai gue. Gue gak sempat ngeluarin kalimat. Gue hanya mengangguk. Apa arti anggukan gue, gue sendiri gak tau. Tapi yang jelas adalah gue juga menikmati nuansa ini.

Begitu lihainya jemari Rina membuka celana gue. Hingga dalam beberapa dia gak kesulitan dalam melakukan aksinya ini. Saat ini Rina sudah menggenggam dengan lembutnya batangan gue.
” Hm… And, lumayan juga punya kamu. Kalo aku tebak, panjangnya kira-kira 14 dan diameternya 4 cm.”
” Nggg.. gak salah-salah bangat. Panjangnya 14.5 dengan diamenter 4.5 cm.” kataku dengan suara yang sedikit parau. Susah sekali gue mengatur pernapasan gue yagn gak beraturan ini. Terdengar Rina mendesis, gue rasa Rina ngelami hal yang sama dengan sulitnya ngatur pernapasan… Birahi dah bicara banyak di nuansa diantar Rina dan gue. Rina masih saja membelai benda yang telah tegang sekali itu, dan tak jarang dia sedikit meremasnya. Keadaan ini harus berimbang, gue gak mo tinggal diam berlama-lama seperti ini. Dengan gerakan cepat gue melayangkan tangan gue kearah buah dada yang memang tidah ditutup dengan bra itu. Tampak bentukan putingnya yang ngeras. Dengan tangan kiri gue coba meraih benda itu. Ekspresi Rina hanya melirik kearah gue sebentar dengan senyuman. Pertanda setuju kah senyuman itu Rina ?? Ah.. apa pun itu, gue juga ingin merasakan tubuhmu. Gue meremas dengan sekali-sekali gue mainin puting buah dada Rina dari luar kaos yang dia kenakan. Rina beraksi dengan tubuhnya yang bergelinjang saat putingnya gue jepit dan gue elus dengan ibu jari dan jari telunjuk gue.

” Aku buka punya kamu ya ?” dengan pertanyaan yang hanya sekedar formalitas belaka, Rina membuka celana gue. Lihai dia. tanpa kesulitan yang berarti, Rina telah membuka celana gue. Sesaat setalah itu, batangan gue jelas kelihatan pada posisi yang sangat menantang. Juga pada kesempatan yang sama, gue masih saja mempermainkan putingnya. Desahan-desahan nikmat yang Rina rasakan terekspresi pada raut wajahnya yang keliatan sangat tegang.
Gue membukan kemeja gue, juga kemudian gue bukan juga singlet yang gue kenakan. Bearti gue hanya menggunakan CD yang hanya terpaut di paha gue karena Rina telah melorotkannya ke bawah. Aksi gue pun tidak mau ketinggalan, baju kaos Rina gue buka. Dengan sedikit bantuan Rina, kaos itu telah terlepas dari pemiliknya. Rina hanya menggunakan CD dengan warna krem. Sexy sekali. Bentuk CD itu mini bangat dengan hanya seutas tali dibagian sempingnya dan renda-renda yang sangat transparan di segitiga liar depan CDnya. Ketika hendak meraihnya CD Rina dengan maksud hendak membelai memeknya, Rina bergerak seperti menghindar. Tapi bukan juga, dia hanya kebetulan mengganti posisinya. Rina mengisyaratkan gue untuk berdiri, sementara dia berlutut. Posisi batangan gue dalam genggamannya. Kemudian dia mengarahkannya ke mulutnya. Oh.. mau oral ya. bisikku dalam hati. Rina menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat kepala batangan gue. Ah.. ada sensasi yang luar biasa terasa saat jilatan-jilatan Rina mendarat dan mempermainkannya dengan lihai. Gue seperti terbang dengan kenikmatan ini. Rina mengulum batangan gue. Sementara gue hanya bisa menikmati adegan ini, hanya rambut Rina yang gue jambak. Dan mengikuti ritme gerakan kepalanya yang maju mundur. Isapan-isapan dan elusan jilatan lidah Rina semakin meningkatkan level birahi yang ada dalam nuansa adegan sex ini. Sungguh suatu napsu yang begitu haus, Rina terus mengisap dan menjilat batangan gue. Hingga sampai pada suatu keadaan yang hendak menggantung kenikmatan yang gue rasakan. Rina menghetikan kegiatannya dan beranjak berdiri. Rina meraih tangan kiri gue dan menariknya ke arah ranjang. Dalam kesempatan itu, sebelum mendekati ranjang, gue memeluk rina. Gue mengangkatnya ke dalam gendongan gue. Sepertinya posisi yang gue inginkan dia tau. Rina membuka kakinya saat gue mengangkatnya dan melingkarkannya di pinggang gue. Kini Rina dalam gendongan gue, dan detik kemudian gue dan Rina dalam tenggelam dalam ciuman yang tentu saja membara. Gue menidurkan Rina yang masih melingkarkan kakinya di pinggang gue. Tanpa merubah posisi, kami telah berbaring di ranjang. Rina di bawah. Tangan kiri gue arahkan ke selangannya. Mendarat tepat pada sebentuk dengan belahan yang sudah becek basah oleh lendir yang keluar dari memek Rina. Langsung saja jemari gue mempermainkan clitorisnya. Rina menggelinjang. Sementara ciuman terus saja berpagut diselingi dengan erangan-erangan nikmat dari mulut Rina. Jemari tangan yang lain gue tempatkan pada tumpukan buah dada Rina. Gue remas buah dadanya. Sekali-sekali putingnya gue mainin lagi. Kenikatan sepertinya telah memenuhi seluruh ruangan dalam diri Rina, gelinjangannya kian menjadi. Tapi belum saat itu tiba. Gue berinisiatif untuk merubah posisi. Gue ingin posisi 69. Batangan gue dalam genggaman Rina, kemudian mengantarnya ke dekat mulutnya. Jilatan demi jilatan dia lakukan. Sementara diwaktu yang sama, gue membenamkan kepala, lidah gue dah gue masukin ke dalam vagina becek Rina. Gigitan kecil ke clitoris Rina membuatnya meningkatkan frekuensi isapan maju mundur batangan gue. Sensasi membawa Rina dengan napsu yang mambara menjilat dan mengulum dalam posisi 69 ini. Suatu ketika ketika mulut gue benar- benar menenggelamkan lidah gue ke dalam vaginanya. Sementara clitoris gue gigit sambari gue isap vaginanya.
” Wow .. sensasi skali And.. terus sayang.. terus,.. Aku mau keluar neh. ” geliat Rina menjadi lebih.
” Hm.. ah.. ugh,… ” hanya desahan yang gue berikan sebagai jawaban. Napsu gue dak makain menjadi.
” Andi.. gue keluar.. sayang.. ah.. “
Erangan Rina terakhir ini mengekspresikan kenikmatan yang tiada tara. Kaki Rina melingkar menbekap kepala gue. Gue agak sulit menggerakkan kepala gue. Gue berusaha menggerakkan tapi sama saja, tetap gak bisa. Tubuh Rina seperti mengejang kaku. Ini berlangsung kira-kira 2 menit. Sebenarnya gue tersiksa dengan posisi ini, tapi apa daya. Kaki Rina terlalu kejang dan gue membekap kepala gue.

ADA KEJUTAN LAIN TERNYATA :

Tok..tok…tok… Ada ketukan pintu. Itu sepertinya berasal dari pintu kamar ini, kamar Rina. Rina bangkit dari ranjang dengan menggerutu.
” Ih… siapa lagi seh.” kejengkelan Rina gak bisa dia sembunyikan.
” Siapa ? ” suara Rina agak meninggi.
” Aku Rin, Lia. Bukan dong.” oo.. jadi tamu itu Lia. Siapa dia, ah.. mungkin penghuni kamar sebelah.
” Sebentar.” Rina dah berada dibelakang pintu, tapi masih belum mengenakan apa-apa. Kemudian Rina meraih kain berwarna kelam dengan motif reptil dan mengenakan sebagai penutup tubuhnya. Tapi terlihat Rina hanya mengenakan sekenanya. Pintu di buka dan Lia menerobos masuk. Gue terkejut, langsung gue raih selimut dan menutupi tubuh gue sekenanya juga. Terlanjur terkejut.
” Eh.. Lia,…!!! ” suara Rina meninggi dengan nada kesal.
” Rina, sorry. Gue tau kok dan kamu gak perlu merasa terganggu. Gue cuman mo ngembalikan novel ini.” seraya lia menyerangkan 2 buah novel bersampul warna biru dan perak. Gue semakin terkejut ketika dengan seksama melihat raut wajah Lia.
” Hah… Lia ?? ” kagetku.
” Hei .. Andi. Wah .. ketauan kamu.. mainnya sampe kesini rupanya. ” Lia pun menampakkan keterkejutan yang sama, tapi kemudian dia tersenyum.

(Perlu pembaca tau, Lia adalah teman sejawat gue. Gue ma dia satu kantor. Cuman saja beda bagian. Dia dibagian keuangan. Kenal ma Lia mang cukup lama juga seh.. sejak dia bergabung dengan kantor tempat gue kerja kira-kira 1 1/2 taon lalu. tapi gue gak begitu dekat dengan dia, hanya kenal biasa.)

” Oh iya Rina, Andi adalah teman sekantor aku.” katanya lanjut.
” Ohh.. gitu. ” jawab Rina singkat sambil berjalan ke gue dan duduk di dekat gue. Lia duduk di bangku dekat ranjagn tempat gue dengan Rina bergulat.
Rina menggeser posisi duduknya. Rina ikutan tengkurap disamping gue. Menyadari posisi ini, gue dengan sengaja merangkulkan tangan kanan gue ke punggung Rina. Gue belai. Hal ini gue sengaja lakukan untuk memancing reaksi Lia. Tanpa menyadari trik ini, Rina menikmati belaian tangan gue. Semakin meluas area belaian gue. Hinggan setelah gue mendekatkan tangan gue ke lengan kanan Rina kemudian gue tarik hingga badan Rina berbalik tengadah. Kain yang dia gunakan tersimbak dan tonjolan buah dada yang ranum terbuka dalam posisi mengisyaratkan suatu tantang untuk dijamah. Dari sudut mata gue perhatikan Lia mengawasi dengan detail adegan awal ini. Napasnya seperti dia atur, tetapi terlihat susah. Hanya gelisah yang justru terbias.

(Lia, kamu tunggu saja saatnya juga akan tiba :) )

Rina hanya pasrah dengan keadaan ini, gak ada rasa segan yang dia ekspresikan sementara teman se-kost-nya ada dalam kamar. Segera saja kepala gue Rina tarik ke dadanya. Ok, gue tau apa yang kamu mau, Rina. Hm… puting coklat kemerahan itu seperti telah siap dengan mendaratnya lidah gue. Tangan Rina masih memegang kepala gue. Dan gue rasakan gerakan tangan Rina seperti ingin mengambil alih gerakan. Hm.. akhirnya gue turut dalam gerakan tangan Rina. Kedua tumpukan itu secara bergantian gue jilat dan gue remas.

(Lia hanya duduk terpaku. TERPAKU. Ah haa, kata yang tepat. Dan itu berarti Lia dah ada dalam jebakan gue. Memang ini yang gue inginkan. Dan sebentar lagi Lia akan itu dalam adegan ini. Bukankah sutradara episode ini ada gue ? Nah, sabar saja Lia.

) Gak ada lagi rasa sungkan saat ini. Gue bangkit berdiri. Rina tersentak, terkejut. Saat berdirin ini, batangan gue bebas terpajang dalam ruang lingkup tatapan Lia. Terbelalak. Dan sekilas gue liat Lia menelan ludah.
” Andi ? Apa apa ? “
” Tenang saja. Mau sesuatu yang lain gak ? ” ada ide yang tiba- tiba muncul dalam benak gue. Sementara Lia kami biarkan saja duduk di kursi itu. Jadi penonton atau jadi juri mungkin. Gue gak mengunggu respon dari Rina. Pergelangan kaki Rina gue pegang. kemudian gue angkat.
” Heh.. kamu mau ngapain ?” Rina belum mengerti apa yang akan gue lakukan.
” Ikuti saja perintah gue.OK ?”
Dengan instruksi yang gue berikan ke Rina, kini Rina telah dalam posisi yang gue inginkan. Pundak Rina gue pegang sebagai tumpuan badannya. Posisi 69 tapi kali ini berdiri.

(Pembaca bisa bayangkan ? OK.. gue coba terangin. Gini, Rina dalam posisi 69 ini gue angkat (gendong dalam posisi kepala di bawah). Tangan kanan gue kenahan bahu Rina sementara tangan kiri gue merangkul pinggulnya. Dalam posisi gini gue merasa keberatan dengan berat badan Rina yang sebenarnya lumayan berat. Rina merangkul pinggang gue juga sebagai tempat menahan berat badannya sendiri. Gimana pembaca bisa membayangkan posisi ini.)

Begitu dah dalam posisi yang tepat, Rina telah berhasil mengulum batangan gue. Kepala Rina bergoyang maju dan mundur sambil mengisap- isap. Wow .. sensasional. ** Iklan kali..:)** Begitu pun gue, memek yang memang telah basah itu gue langsung terkam. Ceplokss.. clek..clek..clek.. bunyi memek Rina karena jilatan gue. Hm.. ah..oh. Rina terus mendesis desah.

(Lia… sekali lagi Lia. Hm.. gimana perasaan kamu sekarang ? Tidakkah pemandangan ini bergairah ? Lia semakin tidak bergeming dari tempat duduknya. Matanya tak berkedip sedikitpun mengawasi jalannya adegan tanpa skrip ini. Entah sadar atau tidak, tangan Lia berada pada selangkangannya. Dan tangan yang satunya memegang dada kirinya. Meremas. Gotcha, kamu sudah dalam perangkap birahi.)

Sesaat kemudian, posisi 69 berdiri ini berubah. Gue capek menahan beban berat badan Rina. Rina mengisyaratkan kan berbaring.
” Lia, tolong dong tuh gelas di samping kamu bawakan kesini.” tanpa ba bu atau bi.. Lia mengantarkan gelas yang Rina maksud kemudian menyodorkannya. Tapi sebelum Rina menggapai gelas itu, cepat gue ulurkan tangan dan menerimanya. Tapi dengan sengaja gue menggenggam tangan Lia. Gak ada sedikitpun penolakan. Lia hanya memandang ke Rina seperti mengisyaratkan suatu permohonan, Rina.. aku mau ikut dalam adegan ini. Rina kemudian menerima gelas itu dari tangan gue. Tapi tangan Lia tetap gue pegang.
” Rina, keberatan ?”
” He eh.. gak pa-pa. ” maksud gue dapat Rina baca.
Lia gue tarik mendekat ke gue. Sementara Rina masih dalam posisi berbaring sambil membalai batangan gue yang diselingi dengan kocokan- kocokan manis. Lia sepertinya telah ngerti apa yang akan gue sampaikan.. hingga belum sempat gue berucap Lia telah meluciti pakaiannya mulai dari baju kaos biru ketat. Cresss.. baju terbuka dan tampak bra hitam yang melintang membungkus. Gak begitu gue perhatian dengan jelas, tapi bisa gue deskripsikan, kira-kira Lia menggunakan bra nomer 36, gue gak tau cup A atau B. Kemudian lucutan yang berikutnya adalah rok biru tua selutut yang begitu pass dengan pinggang dan pinggul hingga ke paha Lia. CD warna hitam sepasang dengan bra. Bentuknya pun cute, bagian depannya berjaring-jaring jarang dan hanya bagian itunya saja yang tertutup dengan lapisan yang berbentuk kain tipis.
Rina tersenyum, kemudian batangan gue yang dia genggam arahkan ke vaginanya. Tanpa ada kesulitan, batangan gue ternyata telah tenggalam setengahnya setelah gue tekan badan gue sedikit ke bawah. Posisi gue berlutut sementara Rina gue angkat kedua kakinya dan bertumpuh di pundak gue. Dan Lia gue minta untuk berdiri mengangkan di atas Rina yang terbaring. Dengan posisi ini, memek Lia (yang sebelumnya CD-nya dah gue buka) tepat dihadapan gue. Sementara tangan gue meremas buah dada Lia dan lidah gue jilatin memeknya, gue sambil menggoyang pinggul gue untuk menggenjot batangan gue ke dalam memek Rina. Wow !! Rina memegang pergelangan kaki Lia untuk tumpuan bertahan dari goncangan dari genjotan gue. Rina dan Lia mendesah, rasanya ini sangat sensasi. Gue juga ikutan dengan desisan kecil, ekspresi kenikmatan yang gak bisa gue sembunyikan. Sementara saja Rina gue terus genjot, Lia gue suruh ganti posisi. Nungging di depan gue. Pantatnya dianggak tinggi tepat di depan mulut gue. Kaki Lia terbuka lebar, memeknya pun terbuka menantang diepan gue. Rina gue minta untuk meremas buah dada Lia. Rina masih dalam posisi yang tadi. Sambil menjilat atau memasukkan lidah gue ke dalam memek Lia, Rina terus gue genjot. Rina ngerasa mo orgasme, dia semakian liar. Pinggul gue dia cengkaram erat kemudian mempercepat gerakan tangannya hinggan pinggul gue ikut terguncang. Ini membuat genjotan gue makin kencang ke memek Rina. Napas gue terburu, dan jilatan-jilatan gue makin gak karuan ke memek Lia. Ternyata Lia ngerasa ini justru makin enak. Makin sensasi. Lia pun akan sampe ke puncak, dia juga mo orgasme. Itu Lia ucapkan berkali-kali…” Aku mau keluar neh Andi. Aku mau keluar.” Keadaan makain gak terkendali. Makin liar. Dan peluh gue kian mengeucur ke dahi dan pelipis gue. Begitupun dengan badan gue, basah keringat. Posisi ini tetap gue pertahankan. Rina terus mengguncang-guncangkan tubuhnya dan menguncang-guncang pinggul gue dengan tangannya. Sementara dalam waktu yang sama Lia menggoyang- goyangkan juga pantatnya naik turun. Gesekan memek Lia ke mulut gue, ke lidah gue kian berasa. Hingga dalam waktu yang hampir bersamaan. Rina yang pertama berteriak tertahan menegang menahan kenikmatan puncak orgasme. Kemudian Lia menyusul dengan menghentikan goyangan pantatnya tapi berbalik menekan ke arah wajah gue. Memek Lia dengan sempurna menyumbat wajah gue. Lidah gur tertancap cukup mamtap di memek Lia. Gila !!!! Gue juga ngerasain hal yang sama. Dengan semakin menggilanya genjotan gue, dan gue gigit memek Lia. Ini membuat kedua perempuan yang gue hadapi berteriak keras. Tapi teriakan mereka teredan dengan sumbatan tangan dan bantal yang segera gue tutupin ke mulut perempuan-perempuan ini. Gilaaaaaa….!!!! Sensasinya sampe ke ubun-ubun gue…. Sperma gue semprotkan ke dalam memek Rina, sementara gue masih terus menggigit memek Lia dengan napsu yang tidak bisa gue gambarin gimana gilanya. Rina mencengkram pinggang gue dan menekan ke arahnya. Batangan gue tertancap penuh ke dalam memek Rina. Dan saat yang bersamaan itu juga, gue pemeluk paha Lia dan menariknya. Karena gue menjilat memek Lia dari belakang, maka seluruh wajah gue dah tenggelam dalam belakan selangkangan Lia. Terasa disekitar bibir gue dah blepotan dengan cairan-cairan yang keluar dari memek Lia. Crottt…crrootttt…crroott… creootttt.. croottt.. tembakan-tembakan sperma muncrat ke dalam memek Rina. Gue berteriak….. aaaaaarrrrgggggg…. hmmrrrr.ggggg…. Rasanya semua sendi gue lepas. Akhirnya gue rebah terkapar diatas tubuh Rina yang dengan segera menyambutnya dengan pelukan dan ciuman yang bertubi- tubi ke bibir gue. Lia yang tadi dalam posisi nungging juga rebah ke samping Rina. Tangan gue tepat mendarat di dadanya. Tak ayal lagi, tangan gue memelintir manis puting Lia yang sangat mengeras itu. Gue sangat puas. Tapi gue belum sepenuhnya nyerah, gue masih ingin merasakan kenikmatan lain dengan memek Lia yang belum ngerasain gimana dasyatnya batangan gue. Tapi badan ini rasanya seperti tertimpa beban berton-ton. Gue masih berusaha untuk mengumpulkan semua tenaga yagn masih ada. Untung semangat ngewek gue masih membara.
” Ahh.. Andi, kamu hebat. Aku puas sekali. Puas.” kalimat itu Rina ucapkan sambil terus menciumi gue. Batangan gue belum gue cabut dari dalam memek Rina. Gue hanya tersenyum mendengar kalimat Rina dengan nada suara yang lemes itu.
” Hm.. Lia, gimana dengan kamu.? ” tanya gue sembari memngusap pipi kiri Lia. Dia sedikit tersenyum kemudian dia bangkit dari rebahannya. Duduk bersila menghadap ke gue. Wow, jelas terlihat memek Lia yang menganga. Hm.. ada tantangan lagi neh, bisikku. Lia sekali lagi tersenyum.
Selang kira-kira 5 menit kemudian setelah gue rasa semua tenaga gue dah terkumpul, gue berdiri dan ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar Rina. Kamar mandi itu ada di dekat kursi tempat Lia tadi duduk. Setelah gue di dalam kamar yang segera gue bersihkan batangan gue yang sudah ngecil itu dengan sabun. Baru saja gue mau berdiri lagi, Lia ternyata dah di dalam kamar mandi. Sebelum langkah gue berada di pintu kamar mandi itu, tangan gue di cengkram erat.
” Andi, gue belum kamu puaskan. Gue minta giliran setelah ini.”
” hm.. ” gue hanya mendehem.. dan tersenyum. Memang itu yang akan kamu rasakan Lia, kataku dalam hati. Setelah Lia, selesai bersih-bersih. Lia berdiri dan kemudian mendaratkan ciuman ke bibir gue. Gue dan Lia masih telanjang. Gak nunggu lebih lama lagi gue langsung meremas dada Lia. Wow, kenyal. Tapi ini, tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian, Lia membungkuk. Wajahnya ia arahkan ke batangan gue. Gue tau maksud dia, gue tatap berdiri. Dan Lia telah berhasil memasukkan bantangan gue yang masih lemes kecil itu kedalam mulutnya. Dalam beberapa pergeseran detik setelah itu, batangan gue bereaksi hebat. Hah.. pintar juga neh perempuan mbuat batangan gue berdiri lagi. Auwww.. masih saja Lia dengan semangatnya yang terbungkus birahi menjilati dan mengisap-isap bantang gue. Terlihat senyuman di wajah Lia, sesaat kemudian setelah dia berdiri. Kemudian dia membelakangi gue dan membungkukkan badannya kedepan. Tangannya bertumpuh pada pinggir bak air di depannya. Oh.. kamu mau doggy style ya ?, ok gue ngerti. Tanpa ada percakapan apa-apa, batangan gue arahin ke dalam memek Lia. Amblas, tanpa ada kesulitan. Memek itu dah licin lagi oleh air dan cairan vagina Lia yang membuat perjalanan batangan gue menuju sorga ‘dosa’ ini tanpa hambatan. Kepala Lia terangkat dan dengan erangan yang membuat kelaki-lakian gue makin menggila. Gue berada lagi pada level tertinggi napsu. Ritme pada intro permainan. Seperti layaknya lagu yang baik, bit-bit awal dengan nada manis mengalun perlahan dengan irama yang tetap. Gue pun tetap mempertahankan ritme ini. Pelan tapi itu pasti. Gesekan demi gesekan gue arahkan. Lia pun mengerti arah kemana akan gue bawa permainan ini. Dengan desis erangan napsu dia perdengarkan. Gue tambah kecepatan genjotan gue, irama erangan Lia semakin jadi. Rupanya hal ini membuat Rina terusik, karena dia dah berada di pintu kamar mandi masih dengan keadaan telanjang bulat. Gue gak memperdulikan kehadiran Rina, gue masih asyik dengan goyangan gue. Dan gitu pun dengan Lia yang hanya memasang posisi ngangkang dan badang di bungkukan ini. Rina mendekat, dia segera membasahi membersihkan memeknya. Dia kelihatan terburu-buru. Sementara keasyikan gue dengan Lia masih berlangsung. Lia berbalik menghadap ke gue, dan kemudian dia mundur ke pinggiran bak dan duduk diatasnya. Lia membukan lebar pahanya. Itu isyarat gue untuk mendekat dan kembali gue masukkan batangan gue ke dalam memek Lia. Rina yang dah selesai membersihkan memeknya, tiba-tiba naik ke atas bak. Berdiri juga dengan posisi mengangkan diatas Lia yang duduk di bawahnya. itu berarti selangkangan Rina. Rina menarik kapala gue mendekat. Tanpa suatu kalimat perintah, gue dah menjulurkan lidah gue dan memainkan clitoris Rina dan manisnya. Goyangan maju dan mundur ke selangkangan Lia masih dan akan terus gue lakukan hingga saat itu datang nanti. Tapi ternyata style ini tidak berlangsung lama. Karena gue menghetikan kegiatan ini.
” Gue ada ide bagus. Neh.. ikut gue.” gue keluar kamar mandi dan ke ranjang. Gue rebahkan diri tengadah dengan membuka lebar-lebar kaki gue. Batangan gue berdiri tagak dengan posisi ini. Lia gue minta ke atas tubuh gue. Lia yang diatas. Posisi kaki yang gue kangkang lebat tadi gue angkat dengan begitu semakin terasa tekanan gesekan memek Lia di batangan gue. Masih berlangsung adegan ini, Rina gue suruh mengangkang dengan tumpuan pada lututnya. Selangkangan Rina tepat diatas wajah gue. Rina menekan pinggulnya ke bawah. Memeknya menganga 5 cm dari mulut gue. Gue jilat. Wow.. … sementara Lia terus menggoyang naik turunkan pinggulnya, gue juga menjilat clitoris Rina.

(Sungguh pembaca, gue gak pernah ngebayangin situasi seperti ini. Yang ada dalam benak gue saat menuju kost Rina, paling yang gue dapat nanti hanya softly sex .. tapi ini pembaca, sudah hardcore .. wow !! Gue sendiri gak percaya dengan ini semua, tapi yang jelas ini bukan mimpi. Ini real… real sex.. Gue tau, mungkin ada diantara pembaca yang akan bilang, hah.. ini cerita doang. Ini dibuat-buat. .. Tapi apa pun itu… yang jelas itu semua dah gue rasakan. Dan itu baru terjadi minggu yang lalu (saat gue dah selesai tulis cerita ini).. Tepatnya 29 September 1998, malam pukul 23:15 wib adegan sex itu kelar.)

Hm… selanjutnya… pembaca bisa bayangkan gimana klimaks adegan ini. Tapi ada yang membuat gue sangat terkejut. Tebak apa yang membuat gue sangat terkejut ?????!!!! Ternyata pintu kamar Rina tidak tertutup rapat. Masih ada celah sebar 5 cm, sangat cukup sebelah mata untuk dipake ngeintip. Yang membuat gue dangat terkejut, ternyata mata itu bukan sebelah… tapi ada 2 mata lagi yang gue liat sekilas. Berarti ada setidaknya tiga orang yang mengintip dari balik pintuk itu. Dan setau gue, penghuni kost ini semuanya cewek. Ada enam kamar, tiga di sebelah dan tiga kamar lagi berjajar dengan kamar Rina. Kebetulan kamar Rina paling ujung. Hah.. sedah berapa lama mereka itu ngintip gue gak tau. Sebab konsentrasi gue hanya ke kedua perempuan yang dah gue puasin ini. Pembaca, malam itu gue nginap di kamar Rina. Gue gak bisa tidur dengan nyenyak, karena pikiran gue terjerembab pada banyak pertanyaan, yang diantaranya….. adalah … kenapa gue ngerasa semua ini hanya jebakan… jebakan dimana gue adalah korban dari suatu skenario sex yang entah nanti jika gue ke sini lagi, ke kost Rina, akan kah mereka dengan seperti berlagak gak sengaja masuk ke kamar Rina saat gue lagi asyik beradu kenikmatan dengan Rina. ‘???????!!!!!?????????’ Jebakankah ini, setidaknya gue dah merasakan kenikmatan dengan mereka. Apa pu itu namanya gue tetap akan ke kost Rina sepanjang perempuan ini tetap meminta gue datang. Dan itu betul, karena setelah pagi kemudian, sesaat sebelum gue meninggalkan kamar Rina. Rina sempat meminta gue untuk datang lagi. Tapi katanya kalo mau datang gue kudu telpon dulu. Hm…. sekarang gue justru berpikir… datang lagi gak ya..??

Tidak ada komentar: